Minggu, 15 Desember 2019

Membeli Genting Tanpa Uang, Cukup dengan Buah-buahan

- 25 Oktober 2019, 16:45 WIB
SENIMAN Denmark menunjukan hasil lukisannya di genting.*/ISTIMEWA

SEBUAH lapak Pasar Desa Ciborelang, Jatiwangi, Majalengka, menjajakan dagangan yang berbeda siang itu: Genting. Mata uangnya pun tergolong unik: buah-buahan. Dengan mata uang tersebut, pembeli bisa memperoleh genting lengkap dengan gambar buah-buahan di dalamnya. Menariknya, gambar tersebut merupakan buah yang diberikan pembeli kepada sang seniman, lengkap dengan cara memotongnya dan jumlahnya.

Aktivitas yang akan berlangsung sampai awal November ini, merupakan bagian dari kerja seni Jesper Aabille dan tiga teman lainnya. Seniman asal Denmark ini tengah melakukan residensi di Jatiwangi Art Factory (JAF), Jatiwangi, Majalengka, hingga 1 November mendatang. Pada kesempatan kali ini, dia ingin mengajak masyarakat Jatiwangi untuk merenungi makna nilai, perdagangan, dan komoditas.

Jatiwangi sendiri, menurut Jesper, pernah jaya dengan industri gentingnya. Pada masa tersebut, dia melihat ada hubungan antara masyarakat dan tanah liat yang kemudian membangun definisi tentang nilai masyarakat Jatiwangi modern. Hubungan inilah yang berusaha Jesper telusuri dalam kaitannya kerja seninya.

Selama empat pekan, Jesper berusaha membangun komunikasi dengan para pembelinya. Dibantu oleh penerjemah, seniman yang telah melukis selama 20 tahun ini mengajak para pengunjung untuk memaknai kembali arti nilai, perdagangan, dan komoditas. “Karena berdagang tidaklah sesederhana yang kita lakukan selama ini. Ada proses yang panjang untuk itu,” ungkap Jesper.

Menurut Jesper, aktivitasnya tidaklah baru. Masyarakat tradisional sudah melakukan proses barter ini sejak lama. Komoditas dan nilai mereka tentukan melalui mekanisme tawar-menawar yang cukup alot. Sebuah barang harus ditukarkan dengan komoditas lainnya yang memiliki nilai yang sama. Nilai ini tergantung dari fungsinya, cara mendapatkannya, dan kegunaannya bagi kedua belah pihak. Semakin besar kegunaannya dan semakin sulit cara mendapatkannya, semakin besar juga nilai barangnya.

Pun Jesper di Pasar Ciborelang siang itu. Dia ingin mengajak masyarakat Jatiwangi untuk memaknai genting dan lukisannya dari jenis dan jumlah buah yang dilukisnya. Genting-genting tersebut sudah dilengkapi dengan tali yang siap digantung di dinding di rumah sang pembeli. Setiap melihatnya, sang pembeli bisa merenungkan makna nilai, komoditas, dan perdagangan. 

Jesper sendiri tidak ingin menentukan pengalaman dan perenungan para pembelinya secara spesifik. Meskipun demikian, seniman lukis di bidang pangan ini punya harapan para pembelinya mampu mengapresiasi proses perdagangan dan orang-orang yang berperan di dalamnya.

Pasar Ciborelang bukan satu-satunya tempat berkesenian rombongan seniman dari Denmark. Ada juga Pesantren Al Mizan dan Puskesmas Jatiwangi yang sama-sama terletak di kecamatan Jatiwangi, Majalengka. Di kedua tempat tersebut, dua seniman lainnya menorehkan aktivitas seninya dengan tema yang sama: Living As Clay.

Amalie Frederiksen, kurator sekaligus ketua tim seniman Denmark, menyampaikan bahwa tanah liat merupakan tema sentral aktivitas berkesenian ketiga kawannya selama di Jatiwangi. Menurutnya, dalam dua kunjungan sebelumnya ke Jatiwangi, Amalie menilai bahwa tanah liat masih menjadi mindset masyarakat Jatiwangi modern secara umum.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X