Senin, 9 Desember 2019

Remasja Putri Asal Indramayu Derita Kelainan Tulang, Hanya Bisa Terbaring

- 24 Oktober 2019, 14:32 WIB
SUNENI (17) hanya bisa terkulai lemah di rumahnya pada, Rabu 23 Oktober 2019. Remaja asal Dusun Kongsi, Desa Sukahaji, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu menderita kelainan tulang belakang dan membutuhkan bantuan.*/GELAR GANDARASA/PR

INDRAMAYU, (PR).- Tak banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh remaja asal Dusun Kongsi, Desa Sukahaji, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu. Setiap harinya Suneni (17) hanya bisa terbaring lemah di pembaringan saja. Remaja putri tersebut menderita kelumpuhan permanen. 

Masa-masa remaja yang seharusnya dihabiskan dengan belajar dan bermain tak dirasakannya. Suneni tengah berjuang keras melawan penyakit yang menyerang tulang-tulangnya. Berdasarkan diagnosa dokter, Suneni menderita kelainan tulang belakang atau skoilosis. 

Pihak keluarga pun telah berupaya menyembuhkan remaja tersebut. Namun apa daya karena terbentur dana akhirnya pengobatan hanya bisa dilakukan seadanya. Hingga kini pun kondisi Suneni bukan membaik malah makin menurun. Hal itulah yang mengundang duka bagi seluruh anggota keluarga. 

Keluarga pun pasrah dengan kondisi yang menimpa Suneni. "Kami tidak memiliki biaya pengobatan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja seringkali masih tidak tercukupi," ujar ayah Suneni yakni Antoni (52), Rabu 23 Oktober 2019. Dia pun mengaku merasa kebingungan untuk mencari biaya operasi anaknya tersebut. 

Penghasilannya sebagai seorang nelayan tak menentu. Kadang ia mendapatkan tangkapan banyak namun seringkali tangkapan tak begitu memuaskan. Sebetulnya Suneni masuk ke dalam program asuransi BPJS Kesehatan. Dia pun pernah dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Keluarga pun datang ke Bandung mengupayakan kesembuhan Suneni. 

"Kata dokter ortopedi di RS Hasan Sadikin Bandung memberitahukan bahwa anak saya perlu dilakukan tindakan operasi," ujarnya. Sebelum dioperasi Suneni diminta untuk melakukan pemeriksaan dan tetap berobat jalan. Namun sayangnya hingga saat ini Antoni belum menerima kabar operasi anaknya tersebut. "Sudah hampir dua tahun," katanya. 

Dia menceritakan, penyakit anaknya tersebut muncul ketika Suneni berumur 15 tahun. Saat itu dia baru saja duduk di bangku SMK kelas X. Tiba-tiba saja Suneni mengeluhkan sakit pada punggungnya. Padahal Suneni dikenal memiliki kepribadian yang aktif dan ceria. 

Keluhan demi keluhan yang dirasakan diabaikan begitu saja. Dia pun tetap melanjutkan pendidikannya dan bersosialisasi dengan rekan-rekannya. Namun sayangnya penyakit yang ia derita semakin mengganas. Kian hari kondisinya kian memburuk. Hingga pada akhirnya ia jatuh terkulai lemas dan tak bisa lagi melanjutkan sekolah. 

Penyakit tersebut mengubur semua impiannya untuk bisa mengenyam pendidikan ke jenjang tinggi. "Suneni masih ingin sekolah," ungkapnya. Kini pihak keluarga berharap ada dermawan yang bisa membantu kesembuhan anaknya tersebut. Sebab pihak keluarga hanya ingin Suneni ceria kembali seperti sedia kala. 


Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

X