Asa Wayang Golek di Pantai Selatan

- 19 Oktober 2019, 21:07 WIB
PERGELARAN seni Wayang Golek dengan dalang Ki Dede Rohidin dari Padepokan Purabaya, Kec. Pangandaran, dibawakan sangat apik dan menarik di Panggung Pondok Seni UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat di Pantai Pangandaran, Sabtu, 19 Oktober 2019 dini hari.*/RETNO HERIYANTO/PR

ALKISAH Prabu Banjarpati raja Banjar Kancana tengah berkumpul bersama Dewi Banjarwati dan Banjar Segara, kedua adiknya, serta para patih dan beberapa orang kepercayaannya. Musibah sedang terus terjadi di wilayah kerajaan Banjar Kancana, sehingga menjadi permasalahan.

Musibah dapat lenyap dari kerajaan Banjar Kancana bila darah Putra Pandawa ke dua, Bima, menetes di Banjar Kancana. Tapi hal tersebut tidak mungkin terjadi, karena tubuh Bima, dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki, tidak mempan oleh senjata apa pun. Hanya senjata Layang Jamuskalimusada yang ada dalam genggaman Prabu Yudistira, yang mampu melukainya.

Berkat ilmunya, Aji Malih Warna mengubah wujud tubuh Banjar Segara menjadi wujud Batara Kresna. Kepada Prabu Yudistira,  Batara Kresna jejadian meminjam Layang Jamuskalimusada dengan alasan untuk pengobatan. Tanpa curiga,  Yudistira langsung memberikan Layang Jamuskalimusada.

Kegemparan terjadi sesaat berselang kepergian Batara Kresna jejadian pergi. Tidak lama kemudian, Batara Prabu Kresna asli datang menghadap Yudistira mempertanyakan maksud dan tujuan kepergian Raden Arjuna. Prabu Kresna merasa bingung karena Batara Kresna baru saja pergi. 

Dengan menggunakan ajian Gambar Lopian, Batara Kresna mengetahui kalau Banjar Segara sudah menjadi dirinya. Karena itu, dibantu Gatotkaca, Batara Kresna pergi ke kerajaan Banjar Kancana mendahului Banjar Segara, dengan menggunakan Aji Malih Warna yang berubah menjadi Dewi Banjarwati, kakak Banjar Segara. Senjata  Layang Jamuskalimusada kembali ke tangan Prabu Yudistira.

Itu adalah sekelumit pergelaran seni wayang golek dengan dalang Ki Dede Rohidin dari Padepokan Purabaya, Kecamatan Pangandaran. Dalang membawakan cerita itu dengan sangat apik dan menarik, di Panggung Pondok Seni UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat di Pantai Pangandaran, Jumat 18 Oktober 2019 malam hingga Sabtu 19 Oktober 2019 dini hari.

Diselingi bodoran para punakawan Cepot, Dawala, dan Gareng, cerita Tirta Wanara Suta penuh dengan gelak tawa.

Bukan sekadar hiburan

Kepala Seksi Atraksi Seni dan Budaya UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Iwan Gunawan, mengatakan bahwa pergelaran seni wayang golek di wilayah Pantai Selatan, khususnya wilayah Pangandaran, bukan hanya sekedar hiburan semata.

Pemangku hajat ataupun masyarakat yang menggelar kesenian wayang golek adalah mereka yang memiliki maksud tertentu. Pegelaran wayang golek dimaksudkan untuk sebuah niat baik berupa hajat lembur, hajat desa ataupun niatan besar lainnya,” tutur Iwan.

Halaman:

Editor: Endah Asih


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X