Senin, 17 Februari 2020

Menapaki Lebaksiuh, Kantor Gubernur Jawa Barat di Tengah Hutan Rimba

- 16 Oktober 2019, 10:01 WIB
PRASASTI Lebaksiuh berdiri di depan deretan rumah warga di Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu, 20 Juli 2019. Prasasti itu menjadi penanda kanpung tersebut pernah menjadi lokasi kantor darurat Gubernur Jawa Barat di zaman perang.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

DUA puluh satu Juli 1947, Agresi Militer I Belanda pecah. Belanda masuk dan menyerang wilayah Republik Indonesia, termasuk Jawa Barat. Tasikmalaya yang sejak awal 1946 telah menjadi pusat pemerintahan Jabar ikut kena gempur.

Bom dan rentetan tembakan Belanda berhamburan, membuat para pejuang kemerdekaan terpukul mundur. Begitu pula Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berpindah tempat hingga ke sebuah kampung terpencil di tengah hutan wilayah Culamega, selatan Tasikmalaya.

Pikiran Rakyat menyambangi kampung bernama Lebaksiuh tersebut. Melacak sisa kantor darurat Pemerintah Provinsi Jabar di zaman perang. Tak lupa pula kisah Gubernur Sewaka, ambtenaar atau pegawai negeri tulen republiken yang menolak pindah ke Yogyakarta demi mendamping rakyat Tatar Pasundan. Sewaka memilih jalan pedang dengan menjalankan roda pemerintahan Jabar di tengah hutan rimba kendati diburu Belanda.

Bukan sekadar kampung terpencil

Tugu putih itu di depan masjid itu menjadi penanda Lebaksiuh bukan sekadar kampung terpencil di Desa Cipicung, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya. Deretan huruf pada marmer yang menempel pada tugu menjadi buktinya.

Prasasti tersebut menyebut Lebaksiuh pernah menjadi pusat kedudukan Provinsi Jawa Barat pimpinan Gubernur Sewaka dalam rentang Agustus 1947-Februari 1948. Di Lebaksiuh, Sewaka mendirikan kantor darurat pemerintah Jabar didampingi overste atau Letnan Kolonel Sutoko yang juga menjadikan kampung itu sebagai basis werkhkreise III (kantong perlawanan) pejuang kemerdekaan.

Letak kantor darurat tersebut berada di belakang tugu tersebut. Enad, warga Lebaksiuh berusia 92 tahun masih ingat pusat pemerintahan Jabar zaman gerilya itu. Kantor darurat tersebut menumpang di rumah warga.

Ada tiga rumah warga yang digunakan masing-masing sebagai kantor Pemprov, residen dan werkhreise. Selain itu, dua rumah warga lain digunakan sebagai tempat tinggal kelurga Sewaka dan Sutoko. Jangan bayangkan  kantor masa pengungsian tersebut laiknya bangunan modern kini atau semacam Gedung Sate. Enad menyebut  bangunan-bangunan yang dipakai itu hanya berupa rumah panggung berdinding bilik beratap hateup. 

Saban hari, bunyi  mesin ketik dari pegawai-pegawai Pemprov yang turut dalam gerilya terdengar dari dalam kantor pemerintahan tersebut. Enad yang kala itu berusia 16- 18 tahun, memperkirakan ada sekira 20 pegawai yang beraktivitas di sana. ‎

Sejumlah warga lokal yang bertugas sebagai kurir atau penghubung hilir mudik menyampaikan surat dari pemerintah Jabar dan werkhreise III ke berbagai wilayah yang masih ditempati pamong Praja atau pegawai negeri republiken dan pasukan gerilya. Beberapa wilayah Tasikmalaya  yang menjadi tujuan para kurir tersebut adalah Cikuya, Taraju, Cibalong. 

Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X