Sabtu, 22 Februari 2020

Jadi Ikon Tasikmalaya, Kerajinan Mendong di Ambang Kepunahan

- 15 Oktober 2019, 06:37 WIB
PERAJIN menenun tikar mendong di Kampung Babakan Nanggerang, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Senin, 14 Oktober 2019. Menjadi ikon Tasikmalaya, nasib kerajinan mendong justru terpuruk.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

KERAJINAN mendong merupakan salah satu ikon industri kreatif di Kota/Kabupaten Tasikmalaya. Nama kerajinan tersebut kerap mengemuka saat pejabat Tasikmalaya berpidato mempromosikan potensi wisata wilayahnya dalam sejumlah kegiatan. Bahkan, sebuah gapura khusus penanda sentra kerajinan itu dibuat di Jalan Bebedahan, Kota Tasikmalaya.

Namun, berbagai apresiasi tersebut justru tak menyentuh persoalan konkret yang dihadapi para pelaku usahanya. Minimnya bahan baku hingga jarangnya generasi muda melakoni profesi sebagai perajin mendong membuat kerajinan warisan turun temurun itu di ambang kepunahan. Pikiran Rakyat menelisik kondisi perajin dan pelaku usahanya di sentra kerajinan mendong, Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Senin, 14 Oktober 2019. 

Sejak puluhan tahun lalu

Pemandangan tepi jalan di Kampung Babakan Nanggerang, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya itu begitu merona. Batang-batang rumput mendong berwarna ungu yang tengah dijemur terhampar di sana. Berbelok sedikit masuk ke permukiman warga, suara tustel atau alat menganyam mendong mulai terdengar.

Mamah, perempuan 59 tahun tampak sibuk memintal batang-batang mendong kering yang telah dilumuri warna di sebuah sudut rumah Babakan Nanggerang. Puluhan tahun sudah Mamah menjadi perajin tikar mendong.

Seingatnya, profesi tersebut mulai dilakoni pada sekitar 1970-an. Saat itu, hampir seluruh warga Babakannanggerang menjadi perajin mendong.

Dari pagi hingga sore, suara alat pemintal terdengar dari halaman-halaman rumah warga. Suami-isteri pun bahu membahu membuat kerajinan yang dikenal nyaman sebagai alat duduk di lantai.

Kini, suasana dan pemandangan itu telah berubah. "Sekarang mah sepi," ucap Mamah. Bahan baku berupa rumput mendong memang semakin sulit diperoleh perajin. Minimnya bahan baku dipengaruhi oleh musim kemarau yang membuat lahan pesawahan sebagai tempat menanam mendong mengering.

Faktor lain berupa tak adanya kebijakan pemerintah membuat gudang penampungan mendong yang diperuntukkan bagi perajin membuat kelangkaan terus terjadi tanpa pandang musim.

Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X