Senin, 16 Desember 2019

Catatan Basarnas, Puluhan Orang Hilang di Laut Jawa Barat Selama 2019

- 10 Oktober 2019, 17:48 WIB
TIM SAR saat mengevakuasi jenazah Misra (25) warga Desa Jeruk Tipis, Kecamatan Kragilan yang tenggelam di aliran Sungai Ciujung dan ditemukan di perairan Pulo Ampel, Minggu 10 Maret 2019.*/DINDIN HASANUDIN/KABAR BANTEN

CIREBON, (PR).- Sedikitnya 50 orang dinyatakan hilang dan 17 orang ditemukan meninggal dunia dalam sembilan kali kejadian kecelakaan kapal di wilayah perairan Jawa Barat selama kurun waktu Januari-September 2019. Dari sembilan kali kejadian kecelakaan kapal di perairan Jabar, sebanyak 100 orang berhasil diselamatkan dalam operasi penyelamatan oleh tim Basarnas.

Menurut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Bandung Deden Ridwansyah, dari sembilan kejadian laka kapal itu, tujuh diantaranya terjadi di wilayah perairan utara dan dua kali di selatan. "Tujuh kejadian kecelakaan kapal terjadi di perairan antara Indramayu sampai Karawang. Untuk perairan Cirebon sendiri meski juga masuk lintasan alur pelayaran yang dilewati kapal-kapal antarnegara, namun relatif aman. Mudah-mudahan bukan hanya Cirebon, tapi perairan lainnya juga aman," ungkap Deden di sela-sela rapat koordinasi dan latihan pencarian dan pertolongan daerah yang digelar Kantor Kantor Pencarian dan Pertolongan Bandung di Hotel Grage Kamis, 10 Oktober 2019.
 

Upaya pencarian dan pertolongan terakhir yang dilakukan Basarnas di wilayah perairan Jabar yakni evakuasi terhadap 10 awak kapal nelayan Indramayu yang kapalnya terbalik dihantam ombak, sebulan lalu. "Kesepuluh nelayan tersebut selamat dan sempat ditolong kapal Brazil yang sedang menuju ke Vietnam. Akhirnya dari kapal Brazil, kesepuluh nelayan itu kami bawa ke Jakarta, untuk dilakukan perawatan medis karena mengalami luka-luka dalam kecelakaan kapal itu," katanya.

Dikatakan Deden, selain sembilan kali kecelakaan di perairan itu, Basarnas juga ikut membantu menolong dan mencari dalam 80 kali kejadian bencana lainnya di wilayah Jabar. Dia mengungkapkan rasa syukurnya atas menurunnya kejadian bencana di wilayah Jabar, dari tahun ke tahun. "Pada masa 2014 sampai 2017, kejadian bencana maupun kecelakaan di Jabar setiap tahun sampai 140 kejadian bahkan lebih. Tahun 2018 turun, ada 114 kejadian. Mudah-mudahan tahun ini tidak bertambah lagi," katanya.

Menurutnya, turunnya kejadian salah satu diantaranya adalah semakin meningkatnya kesadaran masyarakat, untuk melengkapi dirinya dengan peralatan keselamatan selama mencari penghidupan, misalnya nelayan.

Semetara itu Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Didi Hamzar seusai membuka rakor mengakui, sampai saat ini kurangnya sumber daya baik manusia maupun peralatan dan perlengkapan pertolongan masih jauh dari kebutuhan. Namun tentu saja semua itu, katanya tidak menjadi penghalang tim Basarnas dalam melakukan upaya pertolongan. 

"Rakor ini juga bagian dari konsolidasi dalam  kesiapsiagaan menghadapi kondisi apa pun, terutama bencana apalagi menjelang musim hujan," katanya.

Misalnya, dia menyontohkan, untuk Kantor Pencarian dan Pertolongan Bandung dengan wilayah kerja yang sampai Pulau Chrismas di perbatasan Australia, ditambah lagi jumlah penduduk Jawa Barat yang mencapai lebih dari 49 juta, personelnya hanya 94 orang. "Maka dari itu kami mengandalkan bantuan dari TNI, Polri, dan masyarakat. Dengan potensi SAR yang ada di TNI, Polri serta masyarakat, sangat membantu kinerja Basarnas," katanya.***



Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

X