Jejak Batalyon Peta di Tasikmalaya yang Tinggal Tugu Kusam dan Berganti Mal Megah

- 4 Oktober 2019, 23:48 WIB
TUGU penanda keberadaan Batalyon Peta berdiri di tepi Jalan Veteran, Kota Tasikmalaya, Jumat, 4 Oktober 2019. Tugu sarat informasi sejarah tersebut terpojok mal dan deretan pertokoan dengan kondisi kusam.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Dari penelusuran arsip dan dokumen yang disusun mantan pejuang kemerdekaan dan Wakil Ketua LVRI Macab Kota & Kabupaten Tasikmalaya Letna Dua Purnawirawan TNI Suwaryo Ranuatmadja, kisah Batalyon Peta di Tasikmalaya agak terkuak. Pendirian Peta merupakan inisiatif salah satu perintis Kemerdekaan Gatot Mangkupradja yang tergabung dalam Badan Usaha Penyelidikan Kemerdekaan Indonesia kepeada Pemerintahan Tentara Jepang. "Tentara Jepang menyetujui dan dibentuklah Gyugun (Tentara Sukarela Pembela Tanah Air) dengan syarat kesatuan tertinggi Dai Dan (batalyon)," tulis Suwaryo.

Di Priangan dibentuk lima Dai Dan. Peta Priangan Dai Ni Dan di Tasikmalaya dan Pangandaran diperkirakan awalnya satu di bawah pimpinan Dai Dancho Parjaman, Chudancho Maskun serta para Shodancho R Umar Wirahadikusumah, Dede Iskandar dan Bedjorahardjo. Batalyon kemudian menjadi dua. "Dai Ni Dai Dan ini dipindahkan ke Pangandaran, di Tasikmalaya diganti oleh Dai Ichi Dai Dan di bawah Pimpinan Dai Dancho Sofyan Iskandar," kata Suwaryo.

Pemindahan tersebut terjadi selepas dirinya dilantik sebagai anggota Peta. Suwaryo pun menuturan, lokasi latihan Peta untuk menembak berlangsung di Lapangan Udara Cibeureum dibimbing Shodancho Umar Wirahadikusumah. Kini, lokasi itu bernama Lanud Wiriadinata, Kota Tasikmalaya.

Peta adalah kawah candradimuka para pemuda bumiputra berlatih kemampuan militer. Namun, para serdadu muda tersebut juga merasakan langsung penderitaan rakyat di bawah kependudukan negara matahari terbit. Suwaryo melihat langsung penderitaan para santri Pesantren Sukamanah yang dipimpin Kyai Haji Zainal Mustofa yang ditangkap Jepang dan dibawa ke penjara Tasikmalaya. Para santri itu ditendang hingga berjatuhan dari truk yang mengangkutnya. Mayat-mayat warga yang mati kelaparan juga kerap ditemukan para prajurit Peta yang tengah berpatroli. 

Ditempa kerasnya latihan Jepang dan melihat langsung penderitaan rakyat, nasionalisme dan patriotisme hinggap pada diri prajurit- prajurit Peta asal Tasikmalaya. Setelah Peta, Heiho, Yogoketai dilucuti dan dibubarkan Kempeitai karena Jepang kalah perang, para mantan prajurit tersebut berkumpul. Mereka merancang penyerbuan terhadap markasi Kempeitai di Kota Tasikmalaya pada 18 September 1945. Penyerbuan itu sukses melucuti Kempeitai tanpa ada pertumpahan darah. Akan tetapi, kiprah para pemuda Peta Tasikmalaya kini hanya tinggal cerita dan menyisakan tugu paling pojok di pusat perbelanjaan. Bangunan asli musnah berganti salah satu mal megah di Kota Tasikmalaya.***

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X