Rabu, 8 April 2020

Jumlah Penumpang BIJB Turun, Perusahaan Kendaraan Shuttle Merugi

- 3 Oktober 2019, 15:37 WIB
PENUMPANG yang memanfaatkan kendaraan shuttle dari dan ke Bandara Kertajati jumlahnya terus menurun.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

Ani Asriani CSO sebuah perusahaan travel mengatakan hingga tiga bulan berjalan perusahaan angkutan yang melayani Bandara hampir semua merugi. Kerugian diderita akibat minimnya jumlah penumpang serta manajemen BIJB yang menekan perusahaan untuk membayar rekonsiliasi sebesar 7  persen dari pendapatan, jumlah tersebut belum termasuk sewa tennan di dalam terminal.

Karena minimnya penumpang ini kerugian yang diderita setiap harinya bisa mencapai 50 persenan. Perhitungan kasarnya menurut Ani, harga tiket Bandara-Bandung hanya Rp 110.000 per penumpang, biaya tol sebesar Rp 150.000, BBM Rp 150.000 serta upah pengemudi Rp 150.000. Total mencapai Rp 450.000 sekali keberangkatan.

“Jika jumlah penumpang 5 orang maka pendapatan hanya Rp 550.000,” kata Ani.

Kerugian belum jika ada persoalan gangguan teknis seperti matinya lampu seperti yang dialami pada pekan kemarin hingga cukup lama, akibatnya pesawat juga tidak bisa mendarat hingga berjam-jam dan terjadi penundaan pendaratan. Ini juga berdampak pada pengerjaan teknis di administrasi dan keberangkatan shuttle.

Makanan mahal

Keluhan lain adalah minimnya makanan murah setingkat kantin, sehingga menyulitkan para pekerja di bandara yang upah kerjanya masih kecil.

Menurut Ani penyebab minimnya penumpang shuttle salah satunya diakibatkan oleh adanya pilihan kendaraan bagi para penumpang seperti damri yang digratiskan oleh pihak BIJB, sehingga para penumpang lebih memilih damri sebagai tumpangannya.

“Kemarin ini kami dari sejumlah perusahaan shuttle pernah minta bertemu dengan pihak manajemen BIJB minta agar pihak manajemen berupaya memberikan keringanan, melalui subsidi bagi kami agar kerugian yang diderita tidak terlalu besar, pertimbangannya damri dibiayai penuh oleh PT BIJB.” kata Ani.

Sementara, menurutnya, biaya yang dikeluarkan untuk perizinan juga tinggi hingga miliaran rupiah. Jika jumlah penumpang terus seperti sekarang akan cukup lama perusahaan bisa menutupi modal yang telah dikeluarkan.***
 

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X