Minggu, 8 Desember 2019

Banyak yang Tidak Mengerti Motif, Batik Pengantin Justru Dipakai Sehari-hari

- 2 Oktober 2019, 15:48 WIB
SULTAN Sepuh Keraton Kasepuhan P.R.A. Arief Natadiningrat.*/ DOK. PR

CIREBON, (PR).- Penetapan batik sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbenda oleh Unesco pada 2 Oktober 2009 lalu, tidak otomatis membuat pamor batik moncer.

Sampai saat ini sejumlah masalah serius masih dihadapi dalam upaya melestarikan batik, setidaknya di Cirebon.

Menurut Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, di antara masalah yang dihadapi yakni semakin berkurangnya generasi penerus pembatik di Cirebon, sehingga mendatangkan pembatik dari Pekalongan.

"Kondisi ini tentu memprihatinkan. Sehingga perlu ada upaya-upaya serius dalam kaderisasi regenerasi pembatik. Karena Cirebon sebagai pusat batik harus mempertahankan dan melestarikan batik klasik dan khas Cirebon," katanya dalam refleksi Hari Batik Nasional Rabu 2 Oktober 2019.

Persoalan serius lainnya yang dihadapi dalam upaya pelestarian batik Cirebonan yakni  membanjirnya tekstil motif batik yang masuk ke toko-toko dengan harga sangat murah. 

"Membanjirnya produk tekstil dengan motif batik sangat mengancam eksistensi batik tulis, karena memang disparitas harga yang sangat jauh," kata Sultan Arief yang juga Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).

Padahal batik Cirebon sangat dikenal dengan kekayaannya akan motif-motif batik klasik Cirebon yang sangat indah, anggun dan beragam.

Di antara motif batik klasik Cirebon yakni kangkungan, singa barong, wadasan, patran keris, patran payung, patran kangkung, sunyaragen, sawat penganten, dalungan dan teratai.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X