Jumat, 6 Desember 2019

September Kelam, Aksi Solidaritas dari Tasikmalaya untuk Mahasiswa Gugur dalam Demonstrasi

- 1 Oktober 2019, 21:44 WIB
MAHASISWA membacakan puisi dalam kegiatan September Kelam di Alun-Alun Kota Tasikmalaya, Selasa, 1 Oktober 2019. Dalam kegiatan itu, mahasiswa, pelajar dan komunitas di Tasikmalaya menggelar doa bersama, aksi teatrikal, pembacaan puisi atas gugur mahasiswa dan pelajar dalam unjuk rasa serta penolakan represifitas aparat.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Sejumlah mahasiswa, pelajar dan komunitas Tasikmalaya menggelar aksi September kelam sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan terhadap para mahasiswa dan pelajar yang gugur dalam unjuk rasa penolakan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi dan rancangan undang-undang sepihak. Mereka membaca doa bersama, tabur bunga, pembacaan puisi, aksi teatrikal dalam kegiatan yang berlangsung di Alun-Alun Kota Tasikmalaya, Selasa, 1 Oktober 2019.

Acara berlangsung tepat di pelataran tugu Mak Eroh dan Abdul Rozak, para peraih Kalpataru asal Tasikmalaya. Jaka Pria Purnama selaku koordinator kegiatan menuturkan, aksi tersebut merupakan aksi kemanusiaan.

"Kita fokus pada aksi humanisme atau kemanusiaan untuk kawan-kawan yang gugur karena berjuang untuk kepentingan rakyat," kata Jaka di lokasi kegiatan, Selasa sore. Aksi itu diberi tajuk September kelam lantaran sejumlah peristiwa muram yang terjadi di bulan itu seperti kasus asap dan pembakaran hutan, kematian pelajar dan mahasiswa serta tindakan represif aparat kepada mahasiswa.

Pemerintah juga mengesahkan Undang-Undang KPK dan akan mengesahkan berbagai RUU yang sepihak yang dinilai merugikan masyarakat. Jaka juga menyoroti berbagai tindakan represif kepolisian dalam menangani unjuk rasa yang terjadi di berbagai daerah.

"Jangan ada lagi aparat melakukan tindakan represif kepada kami," ucap mahasiswa Universitas Siliwangi tersebut. Tindakan represif bahkan menjalar ke kampus-kampus melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mengancam memberikan sanksi kepada para rektor yang dianggap menggerakan unjuk rasa mahasiswa.

Demikian pula dengan pelajar yang ikut kena larangan menyuarakan aspirasinya tersebut. Jaka menilai, tekanan tersebut tak adil bagi mahasiswa. "Kita aksi tidak boleh, tulisan dibatasi," tutur Jaka.

Padahal, lanjutnya, mahasiswa adalah agent of change atau agen perubahan yang membawa aspirasi masyarakat kepada pemerintah.

Jaka menambahkan, aksi solidaritas itu sengaja dilakukan di alun-alun bukan di kampus. Hal tersebut dilakukan guna menghindari klaim dari kampus tertentu. Ia mengungkapkan, para mahasiswa yang hadir berasal dari sejumlah pergurun tinggi di Kota Tasikmalaya seperti Universitas Siliwangi, Universitas Perjuangan, STIA, Poltekkes, BTH. 

Kegiatan tersebut juga dihadiri penyair sekaligus Dosen Unsil Bode Riswadi. Dengan diiringi nyanyian Darah Juang dari peserta aksi solidaritas, Bode berorasi. "Kita hadir di sini karena ada kawan-kawan kita yang tertembak di Kendari, Jakarta," kata Bode.

Ia mempertanyakan, para akademisi atau dosen yang tidak terpanggil terhadap peristiwa kemanusiaan itu. "Kalau ada dosen tidak (terpanggil) karena kasus kemanusiaan, pertanyakan gelarnya dari mana didapatka," ujar Bode.


Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

X