Santri Cemas Atap Pesantren Hampir Roboh

- 24 September 2019, 08:29 WIB
TIGA santri berbincang di lantai dua Pesantren Abdurrahman, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Senin 23 September 2019. Kondisi gedung Pesantren Abdurrahman rusak berat karena lama tak pernah diperbaiki.*/RANI UMMI FADILA/PR

Selain memiliki dua ruang untuk mondok bagi para santri, pesantren tersebut juga mempunyai tiga ruang kelas di lantai bawah. Atap ruang kelas telah diganti dengan abses karena kondisi sebelumnya hampir sama dengan atap di lantai dua. Jendela di ruang itu pun tak lagi berkaca di salah satu sisinya.

"Karena kayu di sekitar kacanya sudah rapuh, jadi tidak bisa lagi menyangga kaca," ujar Fajar.

Butuh renovasi

Suasana suram di kelas itu diperparah dengan kondisi papan tulis yang sudah patah dan buku yang kumal. Menurut Fajar, pesantren yang didirikan pada 1990 itu butuh renovasi yang nilainya mencapai Rp 1 miliar. Akan tetapi, pihak yayasan tak bisa mengupayakan itu karena tak ada pemasukan berarti.

Santri yang mondok untuk menuntut ilmu agama hanya diwajibkan membayar listrik Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per bulan. Santri tak diminta membayar biaya pendidikan agama kepada para ustad yang mengajar mereka. Keikhlasan hati lah yang menggerakkan ustad-ustad di Pesantren Abdurrahman untuk mendidik santri.

"Pertimbangannya karena santri di sini dari keluarga tidak mampu. Kebanyakan orang tua mereka buruh tani," ucap Fajar.

Untuk makan sehari-hari, para santri yang masih belia itu mengupayakan sendiri dari uang hasil kerjanya saat tak ada kelas belajar. Ada yang berjualan makanan hingga menjadi pemain rebana untuk mendapat uang.

Kegiatan pendidikan agama Islam di Pesantren Abdurrahman berlangsung pagi dan malam hari. Pesantren tersebut tak mengadakan pendidikan formal sejak pendirinya meninggal dunia pada 2000.

Fajar berharap ada donatur, baik swasta maupun pemerintah yang membantu renovasi gedung pesantren. Fajar pun telah berupaya mencari dana lewat laman pengumpulan dana bantuan kitabisa.com.

"Selain renovasi ruang pondokan dan ruang kelas, kami juga perlu merenovasi dua toilet yang sekarang tidak bisa dipakai," kata Fajar.

Takut ambruk

Tak hanya Fajar yang berharap pesantren tersebut direnovasi, Zaki Adiansyah (14) juga demikian. Santri tersebut selalu merasa ketakutan saat hendak tidur pada malam hari. "Takut kalau atap ambruk," kata Zaki.

Halaman:

Editor: Endah Asih


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X