Jual Kuda, Urus Pengidap Gangguan Jiwa

- 18 September 2019, 20:10 WIB
PARA pasien gangguan jiwa beraktivitas di Yayasan Al Fajar Berseri di Desa Sumberjaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Rabu, 18 September 2019. Berawal menjadi kusir, Marsan (48) sang pendiri yayasan kini mengabdikan dirinya untuk para pengidap gangguan jiwa.*/TOMMI ANDRYANDY/PR

Upaya Marsan menampung para ODGJ ini pun mulai dikenal masyarakat luas. Dia pun lantas mendirikan yayasan bernama AL Fajar Berseri. Jumlah pasien pun makin meningkat hingga kini mencapai 370 orang.

Jumlah tersebut terdiri dari 250 laki-laki dan 120 perempuan. Sayangnya, rata-rata ODGJ yang ditangani Marsan termasuk dalam kategori usia produktif yakni 25-30 tahun. “Memang sebenarnya mereka masih bisa bekerja, tapi karena tengah sakit jadi susah bagi mereka,” ucap dia.

Dari banyak pasien yang ditangani, rata-rata mereka mengidap gangguan jiwa karena ada kegagalan, baik dari pekerjaan atau pun keluarga. “Kalau yang pasien laki-laki biasanya karena keluarga atau pekerjaannya gagal. Tapi kalau perempuan itu mayoritas karena asmara,” ucap dia.

Dengan mengurus ratusan ODGJ, setiap pagi Marsan bersama istri, saudara dan warga lain yang dipekerjaan, mulai sibuk mengurus para pasien. Setidaknya tiga karung beras ukuran 50 kilogram dihabiskan untuk memberi makan pasien selama sehari.

“Itu untuk makan sehari kan tiga kali. Belum termasuk lauk pauk. Karena memang jumlahnya makin banyak, operasional juga tinggi. Sekitar Rp 100 juta habis sebulan mah,” ucap dia.

Kendati mendapat bantuan dari pemerintah daerah hingga pusat serta memiliki sejumlah donatur tetap, Marsan terkadang kesulitan menghidupi ratusan pasiennya. Terlebih, saat ini, persoalan tidak hanya biaya operasional namun jumlah pasien yang tidak memadai dengan kondisi yang ada. “Bisa dibilang overload,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bekasi, Abdillah Majid mengatakan, Yayasan Al Fajar Berseri merupakan bagian dari lembaga yang didampingi. Berkat upaya mulianya, pemerintah turut melakukan pemberdayaan, baik dari peningkatan kualitas sumber daya manusia hingga kualitas pelayanan kepada pasien.

“Ini menjadi lembaga pendampingan kami, bagian yang kami asuh. Yayasan itu menjadi satu-satunya di Jawa Barat dan itu dari swasta. Memang perlu didampingi, maka kami turut melakukan pemberdayaan,” ucap dia.***

Halaman:

Editor: Eva Fahas


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X