Senin, 20 Januari 2020

Kasus Sunat Dana Aspirasi Bisa Menjerat Lebih Banyak Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya

- 17 September 2019, 22:13 WIB
WARGA mengamati rumah penerima bantuan Rutilahu yang masih berdinding bilik di Kampung Pasir Gede, Desa/Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa, 17 September 2019. Dugaan penyunatan bantuan Rutilahu Sukahening membuat warga tak bisa maksimal membuat rumahnya laik.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Kasus dugaan pemotongan dana aspirasi yang menjerat anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya di Desa/Kecamatan Sukahening mencuatkan pula praktik pemotongan bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni (Rutilahu). Praktik tersebut membuat penerima bantuan tak maksimal membangun rumah sesuai standard kelaikan.

"PR" menelusuri lokasi penerima bantuan Rutilahu di wilayah Desa/Kecamatan Sukahening, Selasa, 17 September 2019. Dengan diantar Rudiana, Kepala Wilayah (Dusun) Pasir Gede, Desa Sukahening, "PR" mendatangi rumah Yayah di Kampung Pasir Gede, RT 01 RW 06.

Rudiana tahu betul proses pengucuran bantuan tersebut. Ia sempat menjadi saksi kasus itu di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung beberapa waktu lalu. Sementara Yayah merupakan salah satu warga penerima bantuan Rutilahu di Sukahening pada 2017.

Rumah Yayah terlihat baru dengan cat biru melumuri bagian depannya. Namun ketika "PR" berkeliling di bagian pinggirnya, kesan tempat tinggal dari bantuan pemerintah tersebut merupakan rumah permanen seketika lenyap. Dinding tepi rumah ternyata masih menggunakan bilik. Kondisi lantai rumah memang telah menggunakan keramik. Akan tetapi, tembok di bagian dalam rupanya masih menggunakan tripleks atau papan kayu.

Yayah mengaku menerima bantuan untuk membangun rumahnya senilai Rp 8.250.000. Awalnya, rumah Yayah hanya berupa rumah panggung di tepi tebing. Dengan bantuan tersebut, uang digunakan membangun kediamannya di lokasi yang tak jauh dari rumah lama.

Meski demikian, bantuan tersebut tak benar-benar membuat Yayah maksimal membangun rumah laik huni. Apalagi, Yayah tinggal bersama putrinya, Ririn (26) yang telah memiliki anak. Ia hanya membangun rumah semi permanen karena keterbatasan bantuan yang diterima. Dana tersebut dicukup-cukupkan dengan menggunakan material dinding dari bilik dan tripleks. 

Ternyata, persoalan keterbatasan dana bantuan bukan karena alokasi anggaran yang minim. Rudiana mengungkapkan dugaan adanya pemotongan dana rehabilitas rumah tersebut oleh anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Deni Sagara.

Kasus tersebut merebak setelah tembok penahan tanah di Lapang Jati, Desa Sukahening ambrol beberapa tahun lalu. Lagi-lagi nama Deni tersangkut persoalan itu. Sejumlah keterangan saksi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Bandung juga menyebut Deni dalam perkara penyunatan uang bantuan tersebut.

Deni kini sudah tak menjadi anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya. Tetapi, beberapa koleganya seperti Asep Hussein yang kembali terpilih jadi wakil rakyat ikut tersangkut dan menjadi saksi dalam persidangan.

Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X