Menanti Kembalinya Kejayaan Garam Indramayu

- 15 September 2019, 21:54 WIB
PETAMBAK garam di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, tengah mengolah garam pada Agustus 2019.*/GELAR GANDARASA/PR

SUDAH beberapa bulan terakhir ini, wilayah Jawa Barat dilanda kekeringan yang cukup panjang. Bagi petani, kondisi tersebut merupakan malapetaka. Namun sebaliknya, bagi petambak garam, kondisi kemarau merupakan waktu yang ideal untuk memproduksi garam sebanyak-banyaknya. 

Salah satu sentra garam Indramayu ada di wilayah Kecamatan Krangkeng. Kondisi geografis yang dekat dengan laut membuat banyak warga berprofesi sebagai petambak garam. Salah satunya adalah Vindy Ferdiansyah (30), petambak garam asal Krangkeng.

Meski banyak yang berprofesi sebagai petambak garam, tapi profesi itu belum bisa menjadi andalan. Dia mengatakan, persoalan serius yang tengah dihadapi petambak adalah kesejahteraan karena harga yang rendah. Itu dirasakan meski produksi garam tengah melimpah ruahnya.

"Sekarang, harga garam masih berkisar antara Rp270 sampai Rp300 per kilogramnya," ungkap Vindy, Minggu, 15 September 2019.

Dengan bandrol harga tersebut, kata dia, petambak merasa sangat sulit meningkatkan keuntungan bagi mereka.  Dalam seminggu, rata-rata pendapatan petambak hanya mendapatkan Rp300.000.

loading...

"Kalau harga lagi jelek, keuntungan yang didapat otomatis kurang," tutur dia.

Kenangan dua tahun lalu berbeda drastis dengan sekarang

Vindy mengatakan, tak selamanya harga garam membuat pusing para petambak. Dua tahun ke belakang, harga garam pernah dihargai tinggi mencapai Rp2.000 per kilogram.

Kala itu, garam dianggap komoditas yang menjanjikan. Warga pun berbondong-bondong menekuni produksi garam.

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X