Sedekah Bumi Gunung Jati, Ritual yang Selalu Dinanti Masyarakat

- 15 September 2019, 19:15 WIB
SALAH satu replika berupa gambaran Nyi Mas Pakungwati mendapat perhatian para pengunjung ritual nadran dan sedekah bumi, Gunung Jati.*/ISTIMEWA

TIDAK berlebihan bila tradisi ritual Nadran dan Sedekah Bumi di Gunung Jati menjadi momen pariwisata nasional dan sebagai ikonik bagi Cirebon. Tidak saja dimaknai dilihat sebagai peristiwa kebudayaan yang mengandung nilai religi, filosofi dan sosiologi, tetapi juga telah menjelma menjadi perayaan kebudayaan yang memiliki daya tarik luar biasa secara masif.

Pada sisi perayaan kebudayaan, Nadran dan Sedekah Bumi yang selalu diramaikan dengan karnaval ogoh-ogoh, menjadi even pembuktian bagaimana masyarakat di sepanjang pesisir Cirebon, memiliki potensi artisitik yang sangat menarik. Ogoh-ogoh atau replika patung raksasa yang diarak dalam satu karnaval jalanan, menjadi bukti ekspresi estetis masyarakat yang secara tradisional bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani.

Tahun demi tahun, daya tarik upacara tradisional itu makin besar. Dibanding upacara tradisional lain yang juga berkembang secara khas di daerah setempat, barangkali ritual yang berpusat di Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, memiliki magnitud tersendiri yang dirasa lebih kuat.

Tidaklah mengherankan bila upacara tradisional di Gunung Jati selalu ditunggu, tidak saja oleh masyarakat pesisir setempat, tetapi juga daerah lain. Nadran dan Sedekah Bumi Gunung Jati, selalu menyedot kehadiran puluhan ribu warga, mereka datang juga dari Indramayu, Majalengka, Kuningan bahkan beberapa daerah di Tegal, Brebes, termasuk Subang dan Karawang.

Tahun ini, ritual yang puncaknya berlangsung pada Sabtu, 14 September 2019, membuktikan bagaimana event itu terus berkembang dan selalu bertambah menarik. Wajar pula bila Kementerian Pariwisata kemudian menjadikan Nadran, Sedekah Bumi dan Karnaval Ogoh-ogoh yang dikemas ke dalam acara bertajuk Festival Cirebon 2019 ini masuk dalam agenda nasional pariwisata nasional.

Setidaknya ada dua momentum penting dalam upacara tradisional yang telah berlangsung berpuluh, bahkan mungkin ratusan tahun, pada masyarakat pesisir Cirebon tersebut. Pertama adalah momen ritual berupa Nadran dan Sedekah Bumi yang menjadi acara inti, kemudian kedua, adalah karnaval ogoh-ogoh yang bisa dikatakan sebagai ekspresi artistik (hiburan).

Percampuran

Pada momen ritual, ada nilai-nilai sinkreitisme (percampuran) yang lebih bersifat relijius antara tradisi kuno Hindu, Budha dengan nilai-nilai yang lebih modern (Islam). Fenomena lain ialah percampuran dua kultur yang berbasis pada mata pencaharian masyarakat, ialah bertemunya secara sosiologis nilai-nilai lama pada masyarakat agraris (petani) dan maritim (nelayan).  

“Percampuran-percampuran itu melahirkan nilai-nilai filosofis dan spiritual yang menarik pada upacara adat di Gunung Jati,” tutur budayawan Cirebon, Dr. Opan Raffan Hasyim.

Halaman:

Editor: anef


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X