Meski Rawan Picu Kebakaran, Warga Tetap Bakar Jerami Sawah dan Semak

- 12 September 2019, 11:00 WIB
TUMPUKAN jerami terlihat dibakar di pesawahan Kampung Cigaleuh, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 11 September 2019. Pembakaran lahan di musim kemarau bisa picu kebakaran dalam skala luas.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi 6 Tasikmalaya Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Ciamis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jabar Didin Syarifudin mengatakan, ‎pembukaan lahan dengan pembakaran berpotensi menimbulkan kerusakan hutan. Pasalnya, api dari lahan itu bisa menjalar masuk ke hutan. 

Sebagian wilayah Kabupaten Tasikmalaya seperti hutan di Sindangkerta, Cipatujah masuk dalam wilayah kerja institusi Didin. Hingga kini, Didin mengaku wilayah Konservasi 6 yang meliputi Gunung Syawal (Ciamis), Sindangkerta (Kabupaten Tasikmalaya) dan Linggarjati (Cirebon) ‎masih relatif aman atau belum ditemukan hotspot/titik api.

Meski demikian, kewaspadaan perlu ditingkatkan seiring maraknya praktik pembakaran lahan ketika kemarau. Menurut Didin, pembakaran lahan memang lebih praktis dan hemat biaya untuk membersihkan semak atau rerumputan. Akan tetapi, bahaya kebakaran justru mengintai di tengah cuaca yang panas terik belakangan ini. Bahaya tersebut bakal terus mengancam karena kemarau juga berkepanjangan.

"Kalau mau membuka lahan untuk garapan tidak harus dibakar," ucapnya. Rumput atau semak yang dibabat bisa dijadikan pupuk.

Jika mendapati titik api atau kebakaran di wilayahnya, Didin berharap warga  melaporkan ke instansi yang berwenang seperti BKSDA atau Perhutani agar penanganan berupa pemadaman api segera dilakukkan.

Seperti diketahui, kebakaran lahan mulai mengemuka di Kabupaten Tasikmalaya. Pada Kamis, 5 September 2019, kebakaran terjadi di area perkebunan karet di Kampung Tarisi, Desa/Kecamatan Cipatujah. Lahan seluas 15 hektare pun habis terbakar.

Upaya menangani kebakaran dengan cepat juga masih menjadi permasalahan petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tasikmalaya. Mereka terkendala‎ jarak yang jauh dan waktu tempuh untuk datang ke lokasi dengan cepat.

Seperti saat kebakaran menimpa area perkebunan karet Cipatujah. Petugas dan armada Damkar dari Singaparna butuh waktu tiga jam untuk sampai di Cipatujah. Belum lagi  jalur lintasan menuju Tasikmalaya selatan tersebut pun berkelok-kelok sehingga tak memudahkan armada Damkar melewatinya.***

Halaman:

Editor: Endah Asih


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X