Minggu, 19 Januari 2020

Warga Desa Cipaku Manfaatkan Air Kubangan untuk Mandi

- 9 September 2019, 14:33 WIB
MISRAH warga Desa Cipaku tengah mencuci pakaian dan mengambil air untuk kebutuhan mencuci di sumur buatan yang dibangun warga sedalam 1 meter, di pinggir sungai Cideres beberapa hari lalu. Setiap memasuki musim kemarau dua RT di Desa Cipaku ataus ektar 300 KK selalu mengalami krisis air bersih.*/TATI PURNAWATI/PR

MAJALENGKA,(PR).- Hampir setiap tahun warga Desa Cipaku, Kecamatan kadipaten, Kabupaten Majalengka mengalami kesulitan air bersih akibat air sumur dan sungai yang ada di desa mereka mengering begitu memasuki musim kemarau.

Untuk kebutuhan mencuci dan mandi mereka terpaksa menggunakan air kotor yang ada di kubangan Sungai Cideres yang mereka buat sedalam sekitar satu meter, dengan kondisi air yang berlumut serta sedikit kotor.

Namun karena tak ada lagi sumber air bersih, mereka terpaksa memanfaatkan air kubangan tersebut.  Pasokan air bersihdari Ppemerintah sangat terbatas sehingga tidak mencukupi kebutuhan, bahkan sekadar untuk masak dan minum.

Menurut Misrah warga Desa Cipaku, untuk kebutuhan minum dan memasak warga biasa membeli air galon isi ulang seharga Rp 5.000 per galon. Dia sendiri sehari menghabiskan dua galon untuk kebutuhan memasak dan minum.

Sedangkan mencuci pakaian dan perabotan rumah tangga, serta mandi, dia dan keluarganya memanfaatkan air kubangan yang tersisa di sungai Cideres.

Taryo warga lainnya menyebutkan, kesulitan air bersih ini biasa terjadi setiap tahun. Dia berharap ada jaringan air bersih ke wilayahnya untuk mengatasi kesulitan air yang kerap melanda dan menyulitkannya.

“Kesulitan air bersih ini biasa terjadi begitu memasuki musim kemarau. Sumur warga langsung mengering, demikian juga air sungai. Air genangan yang bisa dimanfaatkan warga ini dibuat seolah sumur, airnya dari resapan namun tetap kotor, keruh, dan bau. Tapi ini terpaksa dimanfaatkan karena tidak ada air lagi,” kata Taryo.

Kepala Desa Cipaku, Kecamatan Kadipaten, Suharya mengaakan, ada dua RT di wilayahnya atau sekitar 300 Kepala Keluarga yang mengalami krisis air bersih cukup parah.

Dengan terjadinya krisis air bersih ini, menurut Suharya, tidak hanya berdampak pada kurangnya air bersih untuk kebutuhan masak dan minum serta mencuci, namun juga sebagian warga yang biasa berjualan makanan terpaksa berhenti berdagang karena tidak ada air.

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X