Minggu, 19 Januari 2020

Selain Air Surut karena Kemarau, Sungai Cimulu di Tasikmalaya Juga Dipenuhi Sampah

- 5 September 2019, 20:04 WIB
SAMPAH memenuhi Sungai Cimulu, Kota Tasikmalaya, Kamis, 5 September 2019. Tumpukan sampah yang mengotori sungai membuat warga yang bermukim di bantaran Cimulu khawatir terserang penyakit.BAMBANG ARIFIANTO/

TASIKMALAYA, (PR).- Sungai Cimulu di Tasikmalaya">Kota Tasikmalaya dipenuhi sampah ‎setelah debit airnya menyusut di musim kemarau. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga khawatir terserang penyakit lantaran  sungai yang kotor dan berbau tersebut.

Pantauan "PR" titik-titik tumpukan sampah terlihat di bawah jembatan yang berada di antara Jalan Kapten Naseh dan Galunggung, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes.‎ Di lokasi itu, terdapat pintu irigasi yang membagi aliran Cimulu ke sungai utama dan selokan. Permukaan air nyaris tak mengalir atau hanya menggenang. Tumpukan sampah pun memenuhi genangan air berwarna kehitaman plus berbau itu.

Amin (70), warga Jalan Kapten Naseh, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes menuturkan, sampah-sampah bermunculan setelah kemarau melanda Tasikmalaya">Kota Tasikmalaya. "Teu paralid (sampah tak terbawa aliran air)," kata Amin di lokasi tersebut, Kamis, 5 September 2019.

Jika hujan atau debit air normal, sampah-sampah itu terbawa arus sungai sehingga tak menumpuk. Keadaan sebaliknya terjadi ketika kemarau. Amin mengungkapkan, sampah-sampah itu memang dibuang sejumlah warga. "Ada yang membuang sambil melintas jalan dengan menggunakan sepeda motor," ucapnya.

Letak sungai yang berada di tepi jalan serta di bawah jembatan memudahkan pengguna motor melemparkan sampah-sampah yang dibungkus keresek tanpa perlu menghentikan laju kendaraannya. Amin juga menunjukkan langsung keresek-keresek yang memenuhi badan sungai. 

Praktik buang sampah sembarangan itu biasanya berlangsung dini hari. Tak hanya pengendara, para pelaku lain diduga merupakan warga yang bermukim di sekitar sungai.

Cimulu memang diapit pemukiman yang terbilang padat. Sebelum terhimpit bangunan-bangunan Kapten dan Galunggung, Cimulu juga melintasi deretan pemukiman di Jalan Bantar dan Ampera. Warga-warga di sana ditengarai masih membuang sampahnya ke Cimulu. Amin tak menampik, ada warga Kapten Naseh di tempat tinggalnya yang juga berperilaku serupa. Namun, hal itu dilakukan sekali-kali alias tak sering. "Paling sekeresek," ucapnya.

Amin berharap pemerintah turun tangan mengatasi persoalan itu. Apalagi permukaan air terus menyusut hingga 30-40 centimeter. Sepengetahuan Amin, Cimulu memang tak pernah dikeruk oleh pemerintah. Padahal sungai itu pernah jernih dan dijadikan tempat berenang warga. Amin masih ingat, Cimulu masih dalam kondisi bersih pada 1979. Memasuki 1990-an, air sungai mulai kotor seiring dengan makin banyaknya pemukiman warga.

Hal senada dikemukakan warga Kapten Naseh lainnya, Tatang (37). Ia mengungkapkan, pembersihan sampah hanya dilakukan dengan cara membuka pintu irigasi agar sampah yang menumpuk bisa terbawa arus. Tetapi pengerukan tak dilakukan.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X