Balada Petani Tembakau, Antara Harga Jual dan Biaya Produksi

- 5 September 2019, 08:07 WIB
SUBKI (67) salah seorang petani tembakau sedang memperlihatkan daun tembakau mole hasil panennya di rumahnya di Desa Margaluyu, Kec. Tanjungsari, Rabu 4 September 2019. Para petani tembakau di wilayah Kecamatan Tanjungsari dan Sukasari, mengeluh dengan rendahnya harga jual tembakau dan tingginya biaya produksi penanaman dan pengolahan tembakau sekarang ini” (ADANG JUKARDI/”PR”)***

PARA petani tembakau di wilayah Kecamatan Tanjungsari dan Sukasari, mengeluhkan rendahnya  harga jual tembakau dan tingginya biaya produksi penanaman dan  pengolahan tembakau. Akibatnya, keuntungan mereka  sangat tipis. 

Hal itu membuat budidaya tembakau berikut perdagangannya saat ini tak lagi menggiurkan seperti dulu. Bahkan tidak menjanjikan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani.

“Biaya produksi dari mulai menanam sampai mengolah menjadi tembakau kering siap jual,  cukup tinggi mencapai Rp 50.000 per kilogram. Ketika dijual ke pasar harganya murah hanya  Rp 60.000 per kilogram.  Harga paling tinggi  bisa mencapai Rp 70.000 per kg,  tapi itu sangat jarang. Seseringnya Rp 60.000 kg.  Jadi, keuntungan yang didapat petani sangat tipis hanya Rp 10.000 per kilogram.  Memang untung mah untung, tapi sangat tipis. Tidak cukup untuk biaya sekolah anak apalagi sampai bisa menabung. Kalau dulu, usaha tembakau cukup menjanjikan dan menguntungkan. Dari keuntungannya, saya bisa menabung,” kata salah seorang petani tembakau di Desa Margaluyu, Kecamatan Tanjungsari, Subki (67), ketika ditemui di rumahnya, Rabu 4 September 2019.

Tingginya biaya produksi penanaman dan pengolahan tembakau mole, kata dia,  utamanya disebabkan mahalnya pembelian pupuk NPK yang mencapai Rp 10.000/kg.  Pupuk tersebut tidak disubsidi pemerintah. 

“Karena pupuk yang cocok NPK, terpaksa dibeli walaupun mahal. Belum lagi, petani harus membeli  pestisida untuk memberantas hama ulat saat tanaman tembakaunya masih kecil. Ditambah lagi, harus membayar sewa lahan. Jadi, sangat berat biaya produksi budidaya tembakau sekarang ini” kata Subki.

Selain pupuk, kata dia, biaya produksi lainnya yang memberatkan yakni ongkos kerja. Dari mulai mengiris daun tembakau sampai menjemur,  ongkos kerjanya rata-rata Rp 70.000-80.000 per hari. Kendati  ongkos kerjanya mahal, tetap saja susah mencari pekerja. Sebab, jam kerjanya lebih lama ketimbang pekerjaan lainnya, seperti buruh bangunan. Jam kerja  pengolahan tembakau dari mulai pukul 2.00 dini hari sampai pukul 12.00 atau 10 jam. Sementara jam kerja buruh bangunan hanya 8 jam dengan ongkos kerja lebih tinggi.

 “Jadi, usaha pertanian dan perdagangan tembakau sekarang ini,  kurang menguntungkan bagi para petani. Saya masih bertahan, selain karena mata pencaharian  turun- temurun, juga tidak ada pekerjaan lainnya. Saya sempat menjadi petani sayuran, tapi sulit karena kurang ahli. Karena tidak ada pekerjaan lainnya, terpaksa saya bertahan walaupun keuntungannya sangat tipis. Seharusnya, bertani tembakau ini, jadi pekerjaan sampingan,” ujarnya.

Turunkan harga pupuk

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani


Tags

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X