Kamis, 27 Februari 2020

Ingin Tumbuh Sebagai Laki-laki Seutuhnya, Aimar Butuh Bantuan Operasi karena Kelamin Ganda

- 4 September 2019, 20:43 WIB
AIMAR (3,5) sedang bermain di halaman rumahnya, di Kecamatan Haurwangi, Rabu, 4 September 2019. Walaupun secara fisik terlihat normal, Aimar memiliki kelamin ganda dan memerlukan operasi pemisahan alat kelamin agar kondisi tersebut tidak dibiarkan hingga dia dewasa.*/SHOFIRA HANAN/PR

KEINGINAN seorang bocah untuk menjadi seorang anak laki-laki yang sempurna secara fisik masih belum terwujud. Apa daya, sejak lahir ia memiliki kelamin ganda dan bahkan penisnya tidak memiliki lubang untuk mengeluarkan air kencing.

Aimar Qolbi Rajabi (3,5), itulah nama bocah yang memiliki cacat sejak bawaan lahir. Aimar yang berasal dari Kampung Mareleng, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurmukti, sudah dinyatakan sebagai laki-laki sejak lahirnya.

Namun, putra ketiga dari pasangan Iyan Kustian (46) dan Ida Rosida (37) itu bukan hanya memiliki penis, tapi juga vagina. Bahkan, alat kelamin perempuan pada tubuh Aimar cenderung lebih berfungsi.

”Dokter yang pernah memeriksa anak saya juga bilang, kalau untuk buang air kecil hanya bisa dari vagina karena tidak ada lubang kencing di penisnya,” ujar Ida ketika ditemui di kediamannya di Cianjur, Rabu, 4 September 2019.

Ida menyatakan, ia membesarkan Aimar dengan pola asuh anak laki-laki. Namun, seiring bertambahnya usia, Aimar mulai menyadari adanya perbedaan pada tubuhnya. Namun, berkali-kali mengaku ia menyatakan tidak ingin menjadi perempuan dan lebih menyukai untuk tumbuh sebagai laki-laki.

Ida pun kemudian memeriksakan kembali putranya. Menurut dokter, Aimar menderita Hipospadia atau kelainan pada lubang kencing yang tidak terletak di ujung kepala penis. Selain itu, Aimar juga mengalami kelainan Undescended Testis (UDT) atau kondisi penis yang tidak berada dalam kantung pelir (skrotum). Hal itu biasanya terjadi pada bayi laki-laki dengan umur kehamilan yang kurang cukup.

”Aimar memang lahir waktu usia kehamilan saya 38 minggu, harusnya kan 40 minggu. Saya dirujuk ke RS Hasan Sadikin (RSHS) untuk penanganan lebih lanjut setelah dapat diagnosa dokter itu,” ujar dia.

Di RSHS, Aimar menjalani cek kromosom pada pertengahan Agustus 2019. Tes itu dapat menjadi dasar dilakukannya operasi untuk menentukan apakah Aimar laki-laki atau perempuan. Pasalnya, dikhawatirkan jika bocah itu tumbuh menjadi perempuan meskipun tidak memiliki rahim.

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X