[Laporan Khusus] Napas Berat Dalang Wayang Golek Cepak Indramayu

- 16 Agustus 2019, 19:37 WIB
KI Warsad dan wayang golek Indramayu/GELAR GANDARASA/PR

SUARA alunan musik ­tradisional tampak lekat saat ­mengunjungi ­sanggar yang ada di wilayah Desa Gadingan, ­Kecamatan Sliyeg, ­Kabupaten Indramayu. Di tembok sanggar yang terbuat dari ­anyaman ­bambu itu ­berjejer ­puluhan topeng beragam jenis. Saat menengok ke sudut ­ruangan, sebuah meja yang dipenuhi wayang juga menghiasi ­pemandangan.

Seorang pria tua menjelaskan beberapa wayang yang tersimpan rapi di atas meja tersebut. Tak ada debu menempel di wayang. Wayang-wayang itu dijaga tetap indah untuk dipandang.

”Ini wayang golek cepak asli Indramayu,” ujar Ki Warsad. Ia ada­lah dalang asal Sanggar Jaka Baru. Tangan pria berumur 80 tahun itu sangat lincah tatkala memainkan satu per satu wayang golek cepak.

Sembari terus memainkan wayang, Warsad menceritakan seluk-beluk wayang golek cepak. Jika dilihat sekilas, tak ada ­beda dengan wayang golek lainnya yang ber­asal dari wilayah lain. Namun, jika diamati bagian kepala wayang, barulah diketahui perbedaannya.

”Kalau wayang cepak kepalanya dibuat cepak,” tutur Warsad. Va­riasi tersebutlah yang membuat wayang cepak terlihat ber­beda.

Untuk penokohan wayang golek cepak ­juga mengambil dari ka­rakter asli yang ada di dunia nyata. ”Kalau golek kan banyaknya tokoh pewayangan. Kalau di cepak tokoh-tokoh yang hidup di ­za­man dahulu misalnya para sunan,” kata Warsad. Tak heran, saat pentas dirinya selalu membawakan kisah-kisah masyhur masa lampau yang kaya akan pesan moral.

Beranjak dari tempat duduknya Warsad lantas menunjuk foto ketika wayang golek cepak pernah bertengger di masa kejayaannya. Dia mengenang, pentas kesenian wayang pernah berjaya pada ta­hun 1970-an. Saat itu, setiap warga yang hendak meng­gelar hajatan pasti akan memanggilnya untuk memainkan wayang. Saking terkenalnya, bahkan ia sampai kewalahan menerima panggilan demi panggilan.

”Dulu setahun itu bisa pentas 150 kali,” ungkapnya yang sudah berkiprah menjadi dalang sejak tahun 1960-an.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X