Senin, 24 Februari 2020

Ada Kisah Heroik di Balik Monumen Lusuh Penanda Penyerbuan Markas Satuan Terbengis Jepang di Tasikmalaya

- 14 Agustus 2019, 19:39 WIB
PELAJAR SMK membaca tulisan di monumen penyerbuan pejuang terhadap markas Kempeitai di pojok Gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Mayor Utarya, Kota Tasikmalaya, Selasa 13 Agustus 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Keesokan harinya, serdadu lain di Cibeureum dan Perkebunan Sukajadi di Singaparna turut dilucuti dan dise­rahkan ke induk pasukannya di Cibangkong, Bandung.

Penyerbuan markas Kempeitai merupakan salah satu fragmen sejarah penting Tasikmalaya. Pasalnya, masyarakat bahu-membahu untuk mengusir Jepang yang telah kalah perang.

Zainal Aboedin Alamsyah (87), Ketua Harian Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuang­an 45 Kota Tasikmalaya masih mengingat peristiwa tersebut. Saat itu, Aboedin masih ber­usia 13 tahun.

Informasi penyerangan markas Kempeitai beredar di masyarakat. ”Ada beberapa tetangga yang ikut (penyerangan),” ucap Aboedin di kediamannya, Lengkongsari, Minggu 21 Juli 2019.

Monumen lusuh tak menarik

Jejak heroik bersejarah itu hanya tinggal sebuah monumen di pojok gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Ko­perasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya. Monumen lusuh itu bahkan tak terlalu menarik perhatian warga.

Mesi Mulyasari, pelajar SMK asal Singaparna cukup kaget saat mengetahui lokasi monumen. Padahal, dia sudah dua minggu menjalani praktik kerja lapangan di gedung tersebut. ”Monumen sumpah pemuda kitu?” ucapnya bertanya-tanya. Ia baru tahu ternyata pernah ada perebutan kekuasaan oleh pemuda kepada Jepang di Tasikmalaya.

Secuil informasi sejarah lokal itu memang tak disajikan di sekolahnya. Sekolah hanya menyampaikan sejarah pemberontakan Kiai Zaenal Mustofa yang merupakan pahlawan nasional dan terkait dengan Tasikmalaya.

Hal senada dilontarkan kawannya, Yulis Tiana (17). Yulis berharap, monumen perebutan markas Kempeitai di Tasikmalaya itu bisa dirawat dan dijaga.

Peristiwa penyerbuan Pemuda Tasikmalaya memang telah berlalu puluhan tahun lalu. Namun, tanpa adanya upaya memelihara jejak tersisa, memperingati, dan memasukkannya ke dalam pelajaran siswa, Tasikmalaya mungkin bakal kehilangan ingatan akan sejarah yang menjadi bagian penting darinya.***

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X