Selasa, 25 Februari 2020

Ada Kisah Heroik di Balik Monumen Lusuh Penanda Penyerbuan Markas Satuan Terbengis Jepang di Tasikmalaya

- 14 Agustus 2019, 19:39 WIB
PELAJAR SMK membaca tulisan di monumen penyerbuan pejuang terhadap markas Kempeitai di pojok Gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Mayor Utarya, Kota Tasikmalaya, Selasa 13 Agustus 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Beberapa pemuda juga merupakan bekas tentara sukarela dan organisasi kepanduan yang dibentuk Jepang, seperti Peta, Yogekitai, Kaigun Heiho, dan Seinendan. Mereka kesal karena Jepang masih bercokol di Tasikmalaya.

”Tanggal 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, bergema di mana-mana. Namun, di Tasikmalaya, sampai dengan minggu pertama September 1945, bendera Nippon masih berkibar, khususnya di Markas Kempeitai di kompleks bekas Kantor Asisten Residen Priangan,” tulis Suwaryo RA dalam dokumen Setetes Keringat dari Putra Bangsa untuk Ibu Pertiwi.

Melancarkan provokasi dan siasat jitu

Selain Kantor Asisten Residen, serdadu negeri matahari terbit juga masih menduduki wilayah Cibeureum dan Perkebunan Sukajadi di Singaparna.

Panitia penyerbuan dan pelucutan Kempeitai pun dibentuk di rumah Naseh, tokoh pergerakan Tasikmalaya di Jalan Gudangjero Nomor 1. Kala itu, Naseh bersama tokoh lain, O Tosin, baru dua pekan dibebaskan dari tahanan Kempeitai.

Dengan kondisi fisik yang masih lemah lantaran siksaan polisi militer Jepang itu, kedua tokoh hadir dan bersepakat dengan pemuda untuk menyerang markas Kempeitai. Para pemuda Tasikmalaya eks Peta dan organisasi kepemudaan bentukan Jepang memang menjadi saksi mata atas kejamnya pendudukan Jepang di Tasikmalaya.

Suwaryo yang sempat menjadi Bundacho Peta melihat langsung para santri Pesantren Sukamanah pimpinan Kiai Haji Zaenal Mustofa—yang berontak terhadap Je­pang—ditarik dan ditendang dari truk yang mengangkutnya saat tiba di penjara Tasikmalaya.

Kekejaman tersebut menjadi api semangat pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan. Penyerbuan pemuda juga menunjukkan kematangan siasat. Pada H-3 serangan, mereka melancarkan provokasi dan sengaja menyebarkan berita bahwa pemuda bakal menyerbu Kempeitai dan satuan-satuan tentara Jepang di seluruh Tasikmalaya.

Tak urung, serdadu Kempeitai bersiaga penuh mengantisipasi serangan. Namun, 6 jam sebelum waktu penyerangan, para pemuda kembali mengeluarkan pernyataan batal menyerbu karena kekurangan senjata.

Siasat jitu itu membuat serdadu Jepang tertipu dan tak siap lantaran pemuda ternyata benar-benar melancarkan serangan.

Persoalan keterbatasan senjata memang benar-benar dialami pemuda. Mereka hanya memiliki sebuah revolver FN 32. Namun, berkat kerja sama yang apik dengan masyarakat, pasukan Jepang berhasil dilucuti dan dirampas persenjataannya.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X