Sabtu, 22 Februari 2020

Ada Kisah Heroik di Balik Monumen Lusuh Penanda Penyerbuan Markas Satuan Terbengis Jepang di Tasikmalaya

- 14 Agustus 2019, 19:39 WIB
PELAJAR SMK membaca tulisan di monumen penyerbuan pejuang terhadap markas Kempeitai di pojok Gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Mayor Utarya, Kota Tasikmalaya, Selasa 13 Agustus 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

PROKLAMASI kemerdekaan 1945 bukan hanya bergema di Jakarta. Bara revolusi juga menjalar ke wilayah Tasikmalaya dan membakar hati para pemudanya.

Aksi heroik 700-1.000 pemuda Tasikmalaya pun meletus melalui penyerbuan ke markas Kempeitai Jepang meski dengan keterbatasan senjata, pada 18 September 1945.

Di bawah cahaya sinar bulan dan hawa dingin, sejumlah pemuda dan berbagai elemen masyarakat Tasikmalaya bertiarap mengepung Markas Kempeitai yang menempati bangunan bekas Kantor Asisten Residen di wilayah kota pada pukul 0.30. Mereka terbagi menjadi sejumlah pasukan.

Lokasi markas itu berada di depan lapangan tenis dan penjara dan dikelilingi kawat. Kini, bekas bangunan markas sudah tak terlihat bekasnya. Lokasi tersebut kini berganti menjadi gedung yang dihuni Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya. Gedung itu terimpit Jalan Pemuda dan Jalan Kiai HZ Mustofa.

Lima belas menit berselang, pasukan khusus pemotong kawat telah melaksanakan tugasnya. Pintu serangan telah terbuka. Tak butuh waktu lama, lampu listrik di seluruh wilayah kota padam dengan pekikan merdeka dari para penyerbu bergema diiringi bunyi dari pukulan-pukulan ke tiang listrik dan kentungan.

Seluruh pasukan pun menerobos kawat-kawat yang telah terpotong dari sektor barat dan timur. Sementara itu, dari sektor utara, masuk kendaraan pikap Chevrolet yang juga ditumpangi beberapa penyerbu.

Diserang secara mendadak, pada dini hari pula, membuat serdadu-serdadu Kempeitai tak berdaya. Beberapa mereka langsung ditodong bambu runcing di atas tempat tidur. Bahkan pimpinan para serdadu itu keluar dari kamar tidur dengan mengenakan kemeja putih, sandal, dan meng­acungkan kedua tangannya dengan berteriak, ”Merudeka...merudeka!”

Kisah heroik yang terjadi pada 18 September 1945 tersebut tercatat dalam dokumen Risalah Berakhirnya Kekuasaan Pemerintahan Tentara Jepang di Kabupaten Tasikmalaya yang disusun oleh mantan para pejuang, seperti Suwaryo RA, HA Suhara, dan RH Akil Prawiradiredja. Mereka adalah pemuda-pemuda Tasikmalaya yang turut terbakar semangat dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X