Senin, 17 Februari 2020

Seorang Pendongeng Berjalan Kaki Menyusuri Pantura ke Jakarta demi Biaya Sekolah Anak

- 12 Agustus 2019, 17:56 WIB
SAMSUDIN saat melintas di Indramayu, Minggu 11 Agustus 2019. Dia hendak berangkat ke Jakarta dengan berjalan kaki demi pendidikan anaknya.*/GELAR GANDARASA/PR

DI tengah bisingnya jalanan Pantura di Indramayu, Samsudin berjalan perlahan. Dia perlu menghemat energinya karena perjalanan masih panjang. Keringat di dahinya mendandakan bahwa udara kala itu panas. Sembari menggendong tas biru dan bercelana pendek, dia berjalan ke arah Jakarta.

Penampilan pria 47 tahun itu mencolok bagi siapa saja yang melihatnya. Betapa tidak, di belakang tasnya terdapat kotak berwarna merah putih. “Dongeng keliling, selamatkan satwa langka Indonesia”. Begitulah tulisan yang ada di kotak merah putih tersebut.

Bagi Samsudin, mendongeng merupakan aktivitasnya sehari-hari. Bukan hanya mendongeng di daerahnya di Pabean Indramayu, dia telah berkeliling Indonesia menyampaikan cerita indah yang sarat makna kehidupan kepada anak-anak. Dia lebih banyak bercerita tentang dongeng hewan supaya menarik minat anak kecil.

“Di setiap kota yang dikunjungi, saya selalu sempatkan mendongeng untuk anak-anak,” kata dia dengan mata yang menatap langit. Dalam bercerita, dia selalu menyelipkan pesan moral kepada anak-anak yang setia mendengarkan. Kumpulan potongan cerita itu semuanya ada di dalam kotak yang Samsudin sebut sebagai kotak dongeng.

Dongeng, baginya bukan sekadar cerita fiksi tanpa makna. Dongeng memiliki arti lebih untuk mengembangkan nilai positif yang ada di dalam diri anak. Sayangnya, saat ini dongeng seolah hilang dari tengah masyarakat.

“Para orang tua mungkin saat ini sudah jarang memberikan dongeng bagi anaknya,” ujarnya, Senin 12 Agustus 2019. Pergeseran zaman membuat hal itu terjadi.

Bukan untuk mendongeng

Akan tetapi kali ini, tujuan utama Samsudin berangkat ke Jakarta bukanlah untuk mendongeng. Dia berharap ada donator yang mau memberikan beasiswa bagi putri semata wayangnya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Samsudin tak menampik, sebagai pendongeng, penghasilannya tak menentu dan tak jelas. “Saya sesekali mendongeng saat singgah. Tidak di setiap kota yang saya singgahi saya mendongeng karena terbatasnya waktu,” tutur dia.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X