Senin, 16 Desember 2019

Besek untuk Daging Kurban Kita Bisa Jadi Berasal dari Kampung di Tasikmalaya Ini

- 2 Agustus 2019, 20:44 WIB
ENCUM (60), perajin besek tengah mengayam di rumahnya, Kampung Cigadog Tugu, Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat 2 Agustus 2019. Perajin besek Cigadog Tugu tetap bertahan kendati modal kembang kempis, harga naik turun dan minim tersentuh bantuan pemerintah.*/ BAMBANG ARIFIANTO/PR

JEMARI Encum tak henti bergerak menganyam bilah bambu tipis di depan rumahnya siang itu di Tasikmalaya. Di dekat perempuan 60 tahun tersebut, tergeletak tumpukan pipiti atau besek yang telah rampung dianyam.

Ia berkonsentrasi penuh. Sorot matanya terus mengamati susunan helai irisan bambu yang sudah terpilin rapi. Demikianlah  keseharian Encum, warga Kampung Cigadog Tugu, RT 8, RW 1,‎ Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Ia merupakah salah satu warga Cigadog Tugu yang bekerja sebagai pembuat besek. Selain Encum, sebagian besar warga kampung tersebut juga berprofesi serupa. Keahlian tersebut diperoleh secara turun temurun sejak dahulu.

Sebagai sentra pembuatan besek, irisan tipis bambu yang tengah dijemur terlihat di sejumlah pekarangan rumah warga hingga tepi jalan kampung menjadi pemandangan jamak di kampung itu. Meski demikian, hingga kini harga jual besek masih belum stabil. Warga masih mengandalkan penjualan kepada para bandar yang menyalurkannya ke pasar-pasar. Siang itu, Encum tengah menyelesaikan beberapa besek yang akan dijual ke bandar.

Ia mengaku, besek tengah laku menjelang Iduladha. "Banyak yang memesan untuk hajat nikahan dan sunatan," ucap Encum saat ditemui di kediamannya di Tasikmalaya, Jumat 2 Agustus 2019.

Hajatan pernikahan serta sunatan memang kerap digelar warga selepas momen Lebaran haji tersebut. Warga menggunakannya sebagai wadah makanan dengan lauk pauk yang dibawa pulang para tamu hajatan.

Satu besek menjadi alas makanan, besek lain menjadi tutupnya.  Dalam sehari, Encum bisa membuat 30 besek. Ia bekerja dari pagi hingga malam menjelang. Harga normal rata-rata satu besek adalah Rp 1.000. Dengan harga itu, Encum hanya beroleh penghasilan Rp 30.000 dari 30 besek yang dijual ke bandar setiap hari.

Penghasilan tersebut masih kotor. Encum mesti membayar bahan baku berupa bambu yang dia beli senilai Rp 25.000 untuk panjang satu leunjeur atau sekira semeter. Agar tak habis modal dan masih bisa memiliki uang belanja bagi kebutuhan sehari-hari, dia tak langsung membayar lunas bambu itu. Biasanya, Encum membayarnya Rp 10.000 dan melunasinya setelah produksi kembali pada hari-hari berikutnya.

Tak pelak, dia cuma mendapat penghasilan bersih Rp 20.000 setiap hari. Kendati demikian, harga tersebut masih dianggap bagus oleh warga Cigadog Tugu, Tasikmalaya.


Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

X