Selasa, 2 Juni 2020

Lagi, Sekolah Rusak tak Kunjung Diperbaiki

- 29 Juli 2019, 21:53 WIB
KONDISI ruang kelas yang mengkhawatirkan akibat gempat, di Kampung Balawiri, Desa Pusparaja, Kecamatan Cigalontang Singaparna.*/ BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Jumlah sekolah rusak akibat gempa yang tak tersentuh perbaikan selama dua Sekolah Dasar Negeri Puspamulya, Kampung Balawiri, Desa Pusparaja, Kecamatan Cigalontang.

Hasil pantauan "PR" memperlihatkan dua ruang kelas yang sudah tak memiliki atap di sekolah tersebut. Sisanya dalam kondisi rusak dengan tembok retak dan atap berlubang. Para siswa dan guru pun memaksakan diri belajar di ruang kelas yang tersisa kendati bangunan sudah tak laik pakai dan sempat digoyang gempa. Guna menyiasati keterbatasan ruang, beberapa kelas disekat menggunakan lemari untuk tempat belajar siswa.

Kepala SDN Puspamulya Maman Firmana menuturkan, kerusakan terjadi setelah gempa melanda sekolahnya pada pada Desember 2017.

"Dampaknya langsung bangunan ambruk," kata Maman saat ditemui "PR" di kantornya, Senin 29 Juli 2019. Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Pasalnya, siswa dan guru sedang tak berada di dalam kelas yang runtuh. Dari total tujuh ruangan yang ada, lanjutnya, seluruhnya dalam kondisi rusak. Tiga kelas kondisinya rusak berat alias ambruk. Sedangkan 2 kelas lain dan 1 ruangan guru  dalam keadaan tak kalah mengenaskan meskipun tak ambruk. Kondisi temboknya retak dengan atap bolong.

Guna mengakali keterbatasan, setiap ruangan disekat lemari untuk kegiatan belajar mengajar dua kelas sekaligus. "Kelas 1 dan 2 (digabung) sekelas  ( 1 ruangan), kelas 5 dan 6 sekelas," ucapnya. Setiap kelas yang digabung itu diajar oleh satu guru yang sama. Tujuannya agar proses belajar mengajar lebih mudah. Guru tinggal berpindah sedikit melewati deretan lemari sebagai penyekat saat memberikan pelajaran di kelas yang berbeda. Untuk kelas 3, para muridnya mesti berbagi ruangan dengan kantor guru. Lagi-lagi pemisah menggunakan lemari. Hanya kelas 4 yang belajar secara normal dengan fasilitas  kelas tanpa sekat.

Tetap bersemangat belajar

Meski demikian, semangat belajar mengajar murid dan guru tetap menyala. Dengan jumlah total  116 anak didik, SD yang berdiri sejak 1981 tersebut terus melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tengah berbagai keterbatasan. "Tidak menghilangkan semangat belajar," ucap Maman. Namun, ia mengakui ketidaknyamanan dirasakan siswa dan guru. Proses belajar dua kelas yang digabung dalam satu ruangan membuat kondisinya cukup bising dan mengganggu para guru saat mengajar. Hal lain yang cukup menimbulkan kekhwatiran Maman selaku kepala sekolah adalah keselamatan para siswa.

"Kekhawatiran saya takutnya terjadi gempa lagi, jadi trauma," ucap Maman.

Kini, mereka akhirnya menempati ruangan kelas tersisa walau terancam bahaya. "Kalau selepas kelas (jam pulang siswa) pukul 13.00 dan 14.00 baru tenang," ucapnya. Maman tak mengerti mesti bagaimana lagi agar sekolahnya cepat diperbaiki.

SDN Puspamulya telah beberapa kali mengirimkan proposal permohonan agar sekolah diperbaiki kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya. Proposal disampaikan melalui Kantor UPT Pendidikan Wilayah Cigalontang. Upaya lain dilakukan dengan menanyakan langsung kepada Pemkab Tasikmalaya. Hasilnya hingga kini tak ada realisasi perbaikan atau pembangunan ruang kelas baru sejak kerusakan terjadi pada 2017 lalu.

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X