Kamis, 20 Februari 2020

Petani di Sukabumi Bumi Hanguskan Sawah Puso

- 18 Juli 2019, 18:49 WIB
FOTO ilustrasi kekeringan.*/ANTARA

PALABUHANRATU, (PR).- Kekeringan lahan pertanian di wilayah selatan Sukabumi semakin meluas. Bahkan di sejumlah lahan pertanian di Kecamatan Ciracap, para pertani terpaksa 'membumihanguskan' tanan padi yang telah lama mengering. Sedangkan sisanya menjadi konsumsi binatang ternaknya.

Tanaman padi yang diperkirakan masih berusia satu hingga dua bulan habis dibabat petani. Mereka memangkas dan membakarnya karena mati kekeringan. Apalagi hampir sebagian besar air yang selama ini tertampung di sumber mata air, irigasi hingga sungai kering kerontang. Akibatnya, periode kedua masa tanam mareka gigit jari karena gagal panen

"Padahal keberadaannya sangat membantu para petani untuk mengiri lahan tanaman padi. Karena sudah tidak tersisa, tanaman padi tidak lagi tergenangi air. Akibatnya, tanaman padi yang masih muda mati kekeringan," kata petani Ciracap, Dede Nurdin, Kamis, 18 Juli 2019.

Langkah bumi hangus kata Dede Nurdin dilakukan petani agar memudahkan prosen tanam saat memasuki musim penghujan. Diperkirakan musim hujan awal September mendatang. "Kalau sudah dibabat dan dibakar, kami hanya tinggal mencangkul dan mengolah lahan itu. Sehingga tidak perlu membersihkan lagi," katanya

Sementara dari hasil inventarisir Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi, terdata seluas 700 hektare lahan pertanian sudah masuk kategori puso atau gagal panen. Sedangkan lahan pertanian yang kekeringan telah mencapai seluas 4.000 hektare.

"Lahan pertanian yang puso merupakan lahan tadah hujan. Para petani menggarap lahan tersebut saat masuki musim penghujan saat debit air di sungai-sungai, irigasi dan sumber mata air melimpah," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sudrajat.

Sudrajat ditemui disela-sela tanam perdana kedelai, dalam program percepatan tanam padi, Jagung dan Kedelai (Pajele), di Kampung Cihurip, Desa Cidahu, Kecamatan Cibitung. Ia juga mengingatkan para petani untuk  mengasuransikan lahan pesawahannya. 

Langkah ini dilakukan agar kerugian petani dapat diminimalisir terutama saat musim kemarau. "Kami mengimbau agar seluruh petani mengansuransikan seluruh lahan dan tanaman padinya. Apalagi premi asuransi sangat murah hanya Rp. 36 ribu per hektare. Saat ada kejadian kekeringan, petani dapat mengklaim," katanya.

Selain itu, Sudrajat mengingatkan agar para petani untuk secepatnya menaman dan mengolah lahan pertaniannya. Terutama saat hujan deras mengguyur. "Perlu diperhatikan para petani, bila sudah hujn turun, harus segera mengolah tanpa menunggu air sudah besar. Agar petani dapat panen dua kali diempat bulan terakhir ditahun ini," katanya.***

Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X