Senin, 20 Januari 2020

Sistem Zonasi Tak Dongkrak Penambahan Siswa Sekolah Swasta di Kota Tasikmalaya

- 15 Juli 2019, 21:07 WIB
PENGENDARA melintasi Gedung SMP Pasundan dan SMA Pasundan 1 Tasikmalaya di Jalan Dewi Sartika, Kota Tasikmalaya, Senin, 15 Juli 2019. Sejumlah sekolah swasta di Kota Tasikmalaya di ambang gulung tikar lantaran kekurangan siswa.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Kendati mendapat BOS, penggunaan tetap tersendat-sendat. Ini karena, porsi BOS untuk belanja pegawai/guru mencapai 50 persen. Dulu, lanjut Asep, porsinya sempat 30 dan 15 persen. Saat porsi dana bantuan untuk sekolah swasta banyak tersedot bagi belanja pegawai, iuran atau dana dari siswa juga tak ada lantaran jumlah siswa berkurang. 

Ditemui terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Budiaman Sanusi menyatakan, kekosongan siswa baru SMP swasta terkait daya tampung atau kuotanya lebih banyak ketimbang jumlah lulusan siswa sekolah dasar di tahun ini. Jumlah lulusan SD/MI mencapai 12.143 siswa. Sedangkan daya tampung SMP/MTs negeri/swasta‎ sebesar 16.345 siswa. Terdapat selisih 4.202 siswa.

Dampaknya, sekolah-sekolah mengalami kekosongan siswa. "Jangankan (SMP) swasta, negeri pun masih kosong," tuturnya.

Ia mencontohkan, kekosongan peserta didik baru terjadi di SMP negeri  7, 15, 21, SMP 18, 19. SMP swasta, lanjutnya, juga tak seluruhnya kosong. SMP swasta dengan konsep boarding school yang memadukan pendidikan formal dan pesantren masih memiliki daya jual dan diminati calon siswa. 

Ia menilai permasalahan tersebut lantaran menjamurnya sekolah swasta di Kota Tasikmalaya. "Tiap tahun ada yang membangun sekolah (tetapi)  tidak memikirkan (keberadaan) siswanya," tuturnya.***

 

Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X