Senin, 9 Desember 2019

Perkecil Dampak Kekeringan, Petani di Cirebon Stop Paksakan Tanam Padi

- 15 Juli 2019, 20:58 WIB
*/DOK. PR

SUMBER, (PR).- Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon meminta petani untuk berhenti memaksakan diri membuka sawahnya untuk tanaman padi. Musim kemarau panjang tahun ini, diperkirakan berlangsung lebih lama dan resiko gagal tanam sangat besar.

“Jangan berspekulasi. Kami minta stop dulu. Jangan paksain membuka sawah untuk ditanami padi,” tutur Kepala Distan, H. Ali Effendi, Senin, 15 Juli 2019.

Kemarau panjang membuat sumber air sangat terbatas. Sedangkan jika petani membuka sawah untuk ditanami padi, akan membutuhkan air dalam jumlah besar.

Situasi dan kondisi di lapangan, menyusul kemarau yang telah berlangsung tiga bulan terakhir ini, ketersediaan air sangat terbatas. Kebutuhan air Cirebon masih bertumpu pada air permukaan berupa kiriman dari Majalengka dan Kuningan.

“Karena kita bergantung pada daerah lain, dalam musim kemarau panjang seperti sekarang, Cirebon akan mengalami krisis air luar biasa,” tuturnya.

Fakta di lapangan, tutur Ali, potensi kegagalan tanam padi sangat tinggi. Petani harus sadar dengan kondisi itu dan lebih bersabar dengan cara berhenti menanam padi.

“Kalau mau, justru akan lebih baik jika menanam palawija. Palawija tidak membutuhkan air dalam jumlah besar,” tutur dia.

Kadistan Ali menjelaskan, selama ini setiap musim gadu selalu ada kasus kegagalan panen alias puso yang diakibatkan kekeringan. Hal ini memang tidak dapat terhindarkan karena masalahnya petani memaksakan diri menanam, meski areal sawahnya tidak masuk alokasi untuk ditanami saat musim gadu.

“Yang kekeringan ini sawah yang di luar alokasi. Tanam gadu ini luasan sawahnya terbatas. Berbeda dengan tanam rendeng yang berbarengan dengan musim hujan,” tuturnya.


Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

X