Kampung-kampung Pandai Besi Manonjaya, Bertahan di Tengah Gempuran Perkakas Impor

- 13 Juli 2019, 08:45 WIB
PANDAI besi bergantian menghantam batang besi dengan palu di Kampung Sayuran, Desa Cilangkap, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa, 9 Juli 2019. Sejumlah keluarga dan pelaku usaha pandai besi masih bertahan di kampung tersebut.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

DESA Cilangkap di wilayah Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya memiliki sejumlah perkampungan yang menjadi sentra pembuatan perkakas tajam. Sebagian warganya berprofesi sebagai pandai besi, pembuat gagang dan sarung alat-alat tajam itu secara turun temurun. Hingga kini, usaha tersebut masih bertahan.

"PR" menyambangi dan mendulang cerita para penempa besi serta perajin golok, pisau, sabit yang masih tersisa di sana, Selasa, 9 Juli 2019 lalu.

Tangan dua pria tersebut sudah terangkat untuk bersiap menghantamkan palu dalam genggaman mereka. Satu pria lain dengan alat penjepit meletakkan batang besi yang baru keluar dari perapian. Tak butuh lama, batang besi membara yang diletakkan dalam tonggak khusus itu terkena hantaman palu. 
Gerakan para penempa besi itu begitu rapi. Selesai satu orang mengayunkan dan mengangkat palu, yang lain menyusulnya. Tanpa ada kode atau tanda, kedua penempa seperti sudah satu hati tak berebut memalu atau mengayunkan alatnya bersamaan. 

Setelah pipih, batang besi membara lainnya mendapat giliran terkena hantaman. Kendati bekerja diselingi canda, mereka tetap serius menempa dan membentuknya menjadi golok. Begitulah keseharian para pandai besi di Kampung Sayuran, Desa Cilangkap, Kecamatan Manonjaya. Sayuran itu bisa disebut sebagai salah satu kampung pandai besi tersisa di Cilangkap. Beberapa keluarga penempa besi lain juga tinggal di kampung-kampung dekat Sayuran seperti Cicalung dan Talun.

Di Sayuran terdapat tiga keluarga yang menekuni usaha pandai besi. Ketiga keluarga membuat perkakas tajam berupa golok, sabit, pisau dan parang.

loading...

Kendati hanya tiga, cakupan usaha mereka menjangkau sebagian warga Sayuran. Sejumlah warga di sana memang bekerja sebagai pandai besi pada tiga keluarga tersebut. Ada pula warga yang bekerja sebagai penajam perkakas atau bagian gerinda, pembuat perah (gagang) dan sarangka (sarung) golok. Alhasil, Kampung tersebut menjadi sentra pembuatan berbagai perkakas yang bisa digunakan petani, pedagang serta ibu-ibu rumah tangga. ‎

Dana (58) adalah satu pemilik usaha penempa besi di Sayuran. Usaha pandai besinya memiliki delapan pekerja yang merupakan warga Sayuran.‎ Ia sudah tak ingat lagi sejak kapan warga Sayuran melakoni pekerjaan sebagai pembuat perkakas tajam. Sejak Belanda bercokol di Tanah Air, tutur Dana, para penempa besi sudah ada di tempat tinggalnya. 

Dana menuturkan, keluarga-keluarga pemilik usaha pandai besi di Cilangkap memang satu keturunan dari penempa besi pada generasi awal. "Nenek moyang saya juga bekerja sebagai pandai besi," ucap Selasa siang.

Tak pelak, keterampilan mengolah besi menjadi perkakas tajam diwariskan turun temurun. Selain Dana, terdapat dua keluarga pandai besi lain, yakni Yana dan Didi. Mereka pun meneruskan profesi sang ayah atau keluarganya.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X