Senin, 9 Desember 2019

Akses Menuju Pantai Pangandaran Dihambat Kemacetan karena Pembangunan Jembatan, Wisatawan Tetap Ramai

- 7 Juli 2019, 21:27 WIB
GERBANG masuk obyek wisata Pantai Pangandaran.*/AGUS KUSNADI/KP

PANGANDARAN, (PR).- Meski para pengunjung harus rela terjebak macet hingga berjam-jam, obyek wisata pantai Pangandaran tetap ramai oleh pengunjung wisata. Kemacetan memang menjadi kendala para wisatawan untuk mengakses pantai yang menjadi salah satu obyek wisata favorit di Jawa Barat itu.

Kemacetan kendaraan hingga beberapa kilometer itu berpusat di kawasan hutan Emplak Lembah Putri Putrapinggan, Kecamatan Kalipucang. Kemacetan disebabkan adanya pembangunan jembatan pengganti yang menghubungkan jalan nasional Banjar-Pangandaran.

Akibat pembangunan jembatan pengganti di Putrapinggan II, kendaraan dari dua arah diberlalukan sistem buka-tutup. Kendaraan pun harus melalui jembatan darurat yang berada disamping jembatan utama yang sedang dibongkar. Pantauan di lapangan, tidak sedikit kendaraan yang memutar balik kendaraannya untuk tidak melanjutkan perjalannya ke Pangandaran.

Meski begitu, jumlah pengunjung wisata pada akhir liburan sekolah di pekan ini tetap melonjak. Menurut Wakil Ketua Tim Khusus Penarik Retribusi Pariwisata Kabupaten Pangandaran, Sarlan, jumlah pengunjung yang masuk ke beberapa obyek wisata Pangandaran pada Sabtu, 6 Juli 2019, mencapai puluhan ribu orang.

"Hari ini juga masih banyak pengunjung yang berdatangan ke obyek wisata. Seperti yang terpantau di pintu masuk ke obyek wisata pantai Pangandaran," ujar Sarlan saat dikonfirmasi, Minggu, 7 Juli 2019, kepada Agus Kusnadi dari Kabar Priangan.

Dari jumlah puluhan ribu, menurut Sarlan, pengunjung terbagi di lima obyek wisata yang ada di Kabupaten Pangandaran. Ada obyek wisata pantai Krapyak, Batu Hiu, Batu Karas, Green Canyon, dan pantai Pangandaran.

"Yang ke pantai Pangandaran paling banyak, ada sekitar 50 ribuan pengunjung yang datang untuk Sabtu kemarin," katanya.

Kemacetan kendaraan di lokasi pembangunan jembatan di Putrapinggan juga dirasakan oleh para penumpang bus angkutan umum. Penumpang justru harus merogoh lagi koceknya untuk menambah ongkos dari tarif normal untuk mengganti bahan bakar minyak.


Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

X