Selasa, 28 Januari 2020

Krisis Air Bersih, Warga Terpaksa Gunakan Air Sungai Keruh

- 4 Juli 2019, 10:20 WIB
WARGA Desa Cimanggu mencuci di sungai sejak sumber air mereka mengering, di Cibeber. Kekeringan di sejumlah wilayah Cianjur memaksa warga mengoptimalkan sumber air yang ada, meskipun air seringkali keruh atau tidak layak pakai karena tidak ada pilihan lain.*/SHOFIRA HANAN/PR

KEKERINGAN membuat warga di dua dusin di Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, terpaksa membendung aliran susukan atau sungai kecil agar memperoleh air. Selama dua bulan terakhir, warga bergantian mengambil air yang dari kejauhan pun terlihat sangat keruh.

Namun, tak ada pilihan. Warga Kampung Pasir Manggah dan Gelar Pawitan tetap mengantre dan menampung air untuk digunakan.

Sumur mereka kering dan sumber air yang biasa mereka sebut susukan itu adalah satu-satunya yang tersisa. Setiap harinya, warga harus berhati-hati saat menampung air dan memasukannya ke wadah, karena air bisa semakin keruh.

”Ini satu-satunya sumber air yang tersisa, kami terpaksa menggunakannya untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK),” kata seorang warga, Obar (50), Rabu, 3 Juli 2019. 

Perjuangan warga untuk mendapatkan air yang seadanya itu juga sebenarnya cukup panjang. Soalnya, mereka harus berjalan jauh untuk menjangkau sungai yang memang airnya tidak mengalir itu.

Pasokan seadanya

Hingga saat ini, warga memang masih bisa bertahan dengan pasokan seadanya. Namun, warga tetap dihantui rasa khawatir jika sumber yang ada pun lama-lama bisa saja mengering.

Kepala Dusun Pasir Manggah, Hendarsah mengatakan, jika sungai kering maka warga tidak tahu harus mencari sumber air kemana lagi.

”Ada 1.500 kepala keluarga di empat kedusunan yang terdampak musim kemarau saat ini. Sebenarnya kekeringan dan krisis air bersih ini sudah terjadi sejak awal Ramadan lalu, jadi hampir tiga bulan lamanya,” ucapnya.

Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X