Harga Daging Ayam Rp 7.000-Rp 8.000 Per Kilogram, Banyak Peternak Gulung Tikar

- 26 Juni 2019, 14:39 WIB
OTONG tengah memperbaiki saluran air di kandang ayam di Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka. Harga daging ayam broiler yang rendah Rp 8.000 per kg mengakibatkan para pengusaha ayam broiler merugi hingga milyaran, bahkan banyak yang terpaksa gulung tikar, Rabu, 26 Juni 2019.*/TATI PURNAWATI/KC
OTONG tengah memperbaiki saluran air di kandang ayam di Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka. Harga daging ayam broiler yang rendah Rp 8.000 per kg mengakibatkan para pengusaha ayam broiler merugi hingga milyaran, bahkan banyak yang terpaksa gulung tikar, Rabu, 26 Juni 2019.*/TATI PURNAWATI/KC

MAJALENGKA,(PR).- Sejumlah peternak ayam buras di Majalengka alami kerugian hingga milyaran rupiah akibat harga daging yang anjlok hingga mencapai Rp 8.000 per kg, bahkan sebagian peternak terpaksa gulung tikar untuk menghindari kerugian yang semakin tinggi.

Mereka yang masih bertahan menjalankan usahanya kini menurunkan produksi hingga 70 persenan, produksi hanya untuk mempertahankan keberadaan barang dan memasok ke sejumlah pelanggan agar tidak lari ke pengusaha lain.

Menurut keterangan Hamzah, bagian produksi di perusahaan peternakan ayam Binuang di Kelurahan Sindnagkasih, Kecamatan Majalengka, Kabuaten Majalengka, anjoknya harga ayam broiler telah berlangsung sejak sebulan yang lalu tepatnya setelah lebaran Idulfitri usai.

Anjloknya harga diduga akibat semakin banyak pengusaha yang bekerja dibidang peternakan ayam broiler, dibarengi dengan memproduksi pakan dan vitamin bahkan mereka juga memproduksi DOC sendiri. Akibatnya produksi daging melimpah sementara konsumen tetap.

“Anjloknya harga hingga mencapai Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kg ini baru terjadi sepanjang sejarah perunggasan. Sebelumnya tidak pernah terjadi anjlok harga hingga titik terendah. Paling rendah Rp 18.500,” kata Hamzah yang perusahaannya menurunkan produksi mencapai 70 persenan. Yang biasanya memproduksi 600 box kini hanya 200 box saja. Beberapa kandang tidak diisi dan dibiarkan menganggur sementara hingga harga stabil kembali.

Dengan harga sebesar itu perusahaan menderita kerugian hingga mencapai Rp 12.000 dari setiap ekornya. Nilai yang cukup besar karena harga pakan dan vitamin kini tetap stabil sementara harga jatuh terpuruk. Pakan yang diberikan untuk setiap ekor ayam mulai DOC hingga di panen sebanyak 2,5 kg ditambah vitamin, pemanas udara di kandang, serta harga DOC sendiri setiap ekornya mencapai Rp.3.000. Jumlah belum upah kerja dan sejumlah biaya lainnya.

Perusahaan Binuang sendiri memasok ayam ke sejumlah wilayah seperti Jakarta dan pasar lokal di Majalengka serta Cirebon. Harga di luar kota seperti Jakarta  mencapai Rp 11.000 per kg. Karena ditambah ongkos angkut serta berat ayam setiap ekornya dipatok dibawah 2 kg, karena jika diatas 2 kg maka harga akan lebih rendah hanya Rp 8.000 per kg.

Menurut Otong dan Hamzah belakangan ini cuaca juga kurang mendukung, sehingga tingkat kematian ayam di kandang bisa mencapai 5 hingga 7 persenan. Angin cukup besar, suhu udara terus berubah sehingga pemanas harus benar-benar stabil.

“Makanya sekarang banyak pengusaha yang ambruk dan gulung tikar karena banyak faktor. Yang stabil hanya mereka yang memproduksi DOC sendiri, pakan sendiri, vitamin juga produk sendiri. Semua diproduksi sendiri sehingga biaya lebih bisa ditekan seperti pengusaha di Subang, Bogor dan Tanggerang. Bagi yang segala serbamembeli sulit bertahan kecuali pemodal besar,” kata Otong.

Halaman:

Editor: Eva Fahas


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network