Senin, 9 Desember 2019

Pemanfaatan Air Waduk Jatiluhur Tak Sesuai Rencana

- 24 Juni 2019, 20:08 WIB
WADUK Jatiluhur. Air waduk dimanfaatkan tak sesuai rencana.*/ HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Pemanfaatan air Waduk Jatiluhur untuk irigasi, air baku konsumsi, dan industri kerap tidak sesuai rencana. Akibatnya, air tidak dapat dimanfaatkan secara efisien bahkan banyak yang terbuang begitu saja.

Direktur Operasional dan Pengembangan Perum Jasa Tirta II Antonius Aris mencontohkan pemanfaatan air untuk irigasi. "Sering kali -- bahkan sampai tahun kemarin -- antara rencana tanam itu lima (golongan) aktualisasinya bisa 12-13 golongan," katanya, Senin 24 Juni 2019.

Perum Jasa Tirta II selaku pengelola bendungan tersebut meminta pemangku kebijakan terkait meningkatkan pengaturan pemanfaatan air. Terutama, pemanfaatan untuk irigasi lahan pertanian yang mencapai 90 persen.

Dengan adanya perubahan pola tanam pertanian, PJT II mengaku kesulitan untuk melakukan pengeringan saluran untuk perawatan. "Kami harapkan terutama dari sektor irigasi bisa sesuai dengan rencana tanam. Supaya airnya cukup unyuk semua," kata Antonius.

Selain itu, air dari Waduk Jatiluhur juga dibutuhkan oleh masyarakat di sejumlah daerah padat penduduk seperti Jakarta, Karawang, Bekasi. Air dari bendungan tersebut digunakan untuk air baku perusahaan pengolahan air minum sebanyak 80-100 persen.

Untuk mempertahankan suplai air sesuai kebutuhan di daerah-daerah tersebut, Antonius menyarankan setiap daerah memiliki reservoir. "Reservoir itu penampungan air yang cukup untuk backup kota tersebut untuk PDAM dan MCK-nya," katanya.

Menurut informasi dari PDAM di Jakarta, reservoar mereka yang awalnya bisa menampung untuk kebutuhan selama dua hari, kini sudah habis dalam hitungan jam. Hal itu diduga karena peningkatan konsumsi air oleh masyarakat.

Saat ini, pengelola Waduk Jatiluhur memastikan suplai air untuk seluruh sektor masih normal. "Rata-rata di bulan ini 170-an meter kubik per detik. Tahun lalu kondisinya di bawah tahun ini sehingga di bawah pengaturannya jadi lebih ketat," ujar Antonius.

Sementara itu, kekeringan lahan pertanian mulai terjadi di wilayah Kabupaten Purwakarta saat ini. Kontak Tani Nelayan Andalan daerah setempat memperkirakan kekeringan mulai meluas di seluruh kecamatan yang ada.


Halaman:

Editor: ella yuniaperdani

Tags

Komentar

Terkini

X