Jumat, 21 Februari 2020

Berbekal Ilmu Kias dan Pangasal, RG Cabuli 20 Gadis

- 16 Mei 2019, 03:44 WIB
KAPOLRES Garut AKBP Budi Satria Wiguna dan Ketua P2TP2A Garut, Diah Kurniasari saat ekspos kasus pencabulan yang dilakukan tersangka RG dengan jumlah korban 20 orang yang semuanya gadis di bawah umur.*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN

GARUT, (PR).- Perbuatan bejat yang dilakukan seorang warga Kecamatan Cisewu yang telah merusak kehormatan begitu banyak gadis di bawah umur kini berbuah pahit. RG (26), kini harus berurusan dengan polisi sehingga ia tak bisa lagi leluasa memperdayai para gadis untuk dijadikan korban nafsu bejatnya.

RG pun kini harus mendekam di sel tahanan Mapolres Garut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya serta menjalani pemeriksaan. Penyesalan yang kini dirasakannya pun kini tak berguna lagi karena hukuman berat sudah menantinya.

"Dari hasil pengakuan kepada petugas pemeriksa, RG menyebutkan telah mencabuli 20 gadis. Namun dari jumlah tersebut ada 8 orang yang benar-benar disetubuhinya sedangkan yang lainnya hanya diraba-raba dan digesek-gesek," ujar Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna saat menggelar ekspos kasus pencabulan yang dilakukan tersangka RG di Mapolres Garut, Rabu 15 Mei 2019.
   
Para gadis korban pencabulan yang dilakukan RG, tutur Budi, semuanya masih di bawah umur dengan usia rata-rata antara 14-16 tahun. Dalam aksinya, RG menggunakan modus berpura-pura menjadi dukun yang bisa membantu menghilangkan kesialan.

Tersangka pun sengaja mencari korban yang tengah dilanda kegalauan karena berbagai masalah yang sedang dihadapinya, mulai dari permasalah asmara, ekonomi, serta yang lainnya melalui media sosial Facebook. Kemudian tersangka menawarkan jasa untuk membantu menghilangkan kesialan para korbannya dengan dalih ia mempunyai ilmu.

"Kepada para korbannya, tersangka mengakui mempunyai dua cara ampuh untuk mengobati mereka yakni dengan ilmu kias dan pangasal. Kias bertujuan untuk menghilangkan kesialan dan pangasal agar kejiwaan korban seperti terlahir kembali," kata Budi.

Ritual pengobatan

Dikatakan Budi, para korbannya tersebut kemudian diajaknya bertemu untuk melakukan ritual pengobatan. Dalam ritual pengobatan itu ada keharusan bagi yang mengobati maupun yang akan diobati untuk membuka baju hingga benar-benar telanjang yang diakhiri dengan perbuatan intim layaknya suami isteri.

Padahal menurut Budi, ritual tersebut hanya akal-akalan yang dilakukan tersangka agar bisa menikmati kemolekan tubuh para korbannya. Hal ini terus berulang terhadap korban lainnya hingga akhirnya mencapai 20 orang. 

"Pengakuan tersangka terkait jumlah korban yang telah dicabulinya ini berubah-ubah dari semula hanya 10 orang dan sehari kemudian bertambah menjadi 15 orang. Berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir, pengakuan tersangka berubah kembali menjadi 20  orang korban," ucap Budi kepada wartawan Kabar Priangan, Aep Hendy.

Untuk menimbulkan rasa percaya para korbannya, tutur Budi, tersangka pun mengaku dirinya merupakan guru ngaji dan biasa melakukan pengobatan terhadap berbagai penyakit termasuk berbagai permasalahan yang tegah dihadapi. Padahal keseharinnya tersangka ini hanya sebagai buruh serabutan.

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X