Rabu, 11 Desember 2019

Selama 2019, Muncul Enam Titik Banjir Baru di Kota Bekasi

- 25 April 2019, 23:07 WIB
Ilustrasi.*/DOK PR

BEKASI, (PR).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bekasi mendeteksi enam titik banjir baru yang muncul di tahun 2019.

"Rata-rata penyebab timbulnya titik baru banjir karena saluran drainase yang buruk," kata Wakil Kepala BPBD Kota Bekasi, Karsono, Kamis 25 April 2019.

Karsono menyebutkan enam titik tersebut ialah Villa Jakasetia, Pondok Timur Mas, Perumahan Taman Cikas, Perumahan Pondok Pekayon Indah, Perumahan Jatibening Baru, dan Perumahan Cahaya Kemang Permai. "Penambahan titik banjir ini bukan karena luapan air kali atau sungai, melainkan karena sistem drainase," katanya.

Karsono mencontohkan peristiwa banjir pada Rabu, 24 April 2019, yang terjadi di Perumahan Jatibening Baru dan Perumahan Cahaya Kemang Permai dikarenakan sistem penyumbatan pada saluran pembuang. Debet air yang diterima dan debet air yang keluar tidak imbang sehingga terjadi genangan setinggi 40-60 sentimeter.

Selain itu di hari yang sama, banjir juga merendam di titik lokasi lama seperti Perumahan Taman Narogong Indah setinggi 30-40 sentimeter dan Perumahan Bumi Bekasi Baru setinggi 60 sentimeter sampai 1 meter. Banjir ini disebabkan intensitas hujan yang cukup tinggi, sehingga air dari Kali Rawalumbu tumpah ke pemukiman penduduk.

Seperti diketahui, sejak tahun 2017 titik banjir di Kota Bekasi terdapat 49 titik. Pemerintah Kota Bekasi pun membangun sejumlah folder seperti folder Aren Jaya, Bekasi Timur, folder Pengasinan, Bekasi Timur, folder Irigasi Bekasi Timur, folder Galaksi Bekasi Selatan, dan folder IKIP Pondok Gede.

Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air pada Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi, Yudianto mengatakan bahwa peristiwa banjir yang terjadi di Pondok Pekayon Indah disebabkan saluran pembuang ke Kali Rawa Tembaga tersumbat. Ditambah lagi, intensitasi hujan beberapa hari sangat tinggi.

Yudianto menjelaskan, saluran pembuang yang ada di wilayah tersebut hanya memiliki kedalaman dua meter, sehingga air tidak mengalir ke lokasi saluran tersebut. "Jadi karena air tidak bisa masuk ke saluran pembuang, air tercecer ke lingkungan warga sekitar," tandasnya.***



Editor: Gugum Rachmat Gumilar

Tags

Komentar

Terkini

X