Jumat, 13 Desember 2019

Citangkolo, Sawo, dan Diponegoro

- 1 Maret 2019, 12:45 WIB
PESERTA Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Ulama Nahdlatul Ulama memilih cendera mata yang ditawarkan pedagang di Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Citangkolo, Banjar, Kamis, 28 Februari 2019. Nama Citangkolo tiba-tiba terkenal se-Indonesia dengan adanya hajat nasional ini.*/SARNAPI/PR

NAMA Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, Kota Banjar, dalam beberapa hari ini, memenuhi berbagai lini pemberitaan ataupun media sosial. Padahal, sebelum adanya Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Ulama Nahdlatul Ulama, banyak pihak yang belum tahu nama Citangkolo.

Apalagi, setelah Presiden Joko Widodo bersedia hadir di Pesantren Miftahul Huda Citangkolo, ribuan orang tertarik untuk datang.

Untuk mencapai Pesantren Miftahul Huda sebenarnya tidaklah terlalu sulit, apalagi jalanan di Kota Banjar sudah mulus. Hanya, akses kendaraan umum masih terbatas, apalagi jarak pesantren ke Kota Banjar sekitar 10 kilometer.

Di mata Ketua Panitia Munas Alim Ulama NU Wilayah Jabar Kiagus Zaenal Mubarok, terpilihnya Pesantren Citangkolo sebagai tuan rumahnya hajat nasional sebagai berkah bagi Kota Banjar dan Jawa Barat. "Pesantren punya aspirasi dan kami dari PWNU Jabar juga mendukungnya,” kata pria yang akrab dipanggil Kang Deden di Posko PWNU Jabar, Jalan Raya Citangkolo, Kamis, 28 Februari 2019.

Berkah itu, kata dia, bukan hanya dinikmati oleh pesantren, melainkan juga warga, bahkan para pedagang dari berbagai daerah.

”Kami membuka bazar, baik di sekitar pesantren maupun di Alun-alun Banjar, yang diikuti ratusan pedagang. Berbagai barang dan jasa ditawarkan kepada para peserta ataupun pengunjung munas,” tuturnya.

Nama Pesantren Citangkolo juga makin dikenal di Indonesia sehingga tak kalah dengan pesantren NU yang sudah lama dikenal warga, seperti Pesantren Cipasung dan Pesantren Manonjaya di Tasikmalaya. ”Sebenarnya Pesantren Citangkolo lahir sejak era penjajahan Belanda, tapi mungkin masih banyak nahdliyin yang baru pertama kali ke pesantren ini,” ujarnya.

Cendekiawan muda NU, Iip D Yahya mengatakan, Pesantren Citangkolo yang kini dipimpin oleh KH Munawir Abdurrahim (mustasyar PCNU Kota Banjar) dan sang adik, KH Amin Abdurrohim (Rais PCNU Kota Banjar), tak bisa dilepaskan dari perjuangan Pangeran Diponegoro.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X