Minggu, 15 Desember 2019

Kemacetan Panjang Terjadi Menuju Lokasi Munas Alim Ulama NU

- 27 Februari 2019, 13:18 WIB
LOGO Nahdlatul Ulama.* WWW.NU.OR.ID

BANJAR, (PR).- Kemacetan cukup panjang terjadi di jalan raya menjelang lokasi Munas alim ulama NU di Pesantren Al Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Rabu, 27 Februari 2019. Munas alim ulama akan dibuka Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Calon Wapres KH. Ma'ruf Amin.

Dari pantauan "PR", jalan sudah tersendat sekitar 2 km dari lokasi acara sehingga Nahdliyyin yang akan menuju ke lokasi harus berjalan kaki seperti yang dialami pengurus dan warga NU Kabupaten Majalengka. Untungnya jalan kaki hanya sekitar 500 meter karena tersedia ojek warga sekitar dengan tarif Rp 5.000.

Sementara itu, di lokasi musyawarah Nasional Alim Ulama sekaligus Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Al-Azhar Citangkolo, Banjar, juga dipenuhi ribuan Nahdliyyin. Sebelum presiden datang sudah hadir KH. Ma'ruf Amin, Yeni Wahid (putri Gus Dur), dan tokoh-tokoh pejabat Pemprov Jabar, Pemkot Banjar, maupun pengurus NU Jabar dan kabupaten/kota.

Munas alim ulama mulai Rabu, 27 Februari 2019, hingga Jumat, 1 Maret 2019 akan membahas beberapa hal seperti melalui siaran pers yang diterima dari Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU, Robikin Emhas.

"Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 mengusung tema "Memperkuat Ukhuwah Wathaniyah untuk Kedaulatan Rakyat". Acara tersebut akan membahas berbagai hal terkait keagamaan dan kebangsaan. Meliputi Bahtsul Masail Waqiiyyah (Aktual), Maudluiyyah (Tematik) dan Qonuniyyah (Perundang-Undangan)," katanya.

Sedangkan Konbes NU membahas berbagai hal strategis terkait dengan internal NU. Satu dan lain hal agar kualitas layanan NU semakin meningkat.

"Pemilihan tema ini dilandasi oleh situasi menjelang pelaMengingat Nahdlatul Ulama didirikan dengan dua mandat besar, yaitu peran dan tanggung jawab keagamaan (mas’ūliyah dīniyah) dan peran dan tanggung jawab kebangsaan (mas’ūliyah wathaniyah)," ujarnya.

"NU bukan hanya terpanggil untuk mengurus masalah ubudiyah, fikrah dīniyah, atau harakah Islâmiyah, tetapi juga masalah-masalah kebangsaan. Dalam kapasitas yang dimungkinkan, NU selalu berupaya membantu program-program Pemerintah yang mendukung kesejahteraan rakyat. NU juga memastikan bahwa NKRI adalah kesepakatan final yang tidak boleh dirongrong siapa saja. Karena itu, siapa saja yang mengancam NKRI, berniat menggerogoti dan merobohkan NKRI, akan berhadapan dengan NU," katanya.***



Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X