Minggu, 15 Desember 2019

Keluarga Hilda Fauziah dan Calon Mempelai Pria Bantah Ada Perjodohan Jelang Peristiwa Kabur

- 24 Februari 2019, 20:31 WIB

SINGAPARNA, (PR).- Keluarga Hilda Fauziah (18) dan calon mempelai pria membantah adanya perjodohan yang dilakukan mereka sehingga Hilda kabur dari rumah. Menikahkan anak pada usia dini pun merupakan tradisi di kampung Hilda di Cijambu, Desa Cikawung, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya.

Hal tersebut diungkapkan  Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPID) Kabupaten Tasikmalaya  Ato Rinanto seusai mendatangi kediaman orang tua Hilda, Minggu 24 Februari 2019 sore. Ato menuturkan, dalam tradisi masyarakat Cijambu, saat anak lulus sekolah dasar dengan usia sekitar 13 tahun sudah bisa dinikahkan.

"Ketika ada pihak laki-laki datang (melamar) maka segera ditentukan tanggal nikah," kata Ato dalam sambungan telefonnya. Awalnya, keluarga Hilda kedatangan keluarga Sodik yang ingin meminang Hilda untuk anaknya, Uyep.

Ibunda Hilda, Ai Jajilah pun menanyakan kesediaan Hilda atas lamaran itu. "Mangga ngiringan kumaha mamah," ucap Ato menirukan keterangan keluarga Hilda. Sang anak lalu dianggap menerima lamaran tersebut. Lalu kedua keluarga membuat dan menyepakati tanggal pernikahan Hilda dan Uyep pada 17 November 2018. Hilda saat itu baru lulus sekolah Aliyah.

Sedangkan Uyep merupakan pemuda dengan umur sekitar 24 tahun. Tradisi lain Cijambu adalah pernikahan dilakukan oleh warga sesama satu kampung. Rencana itu terus berjalan hingga Hildameninggalkan kediamannya pada 4 November 2018.

"Keluarga sudah melakukan upaya pencarian, (termasuk) melapor ke Polsek," ujar Ato. Akan tetapi, upaya tersebut tak membuahkan hasil.

Keluarga sang dara tak menampik putrinya mulai keberatan dengan rencana pernikahan itu lantaran berkeinginan kuliah. Karena menanggung malu dan telah menyebar 1.000 undangan, keluarga Uyep tetap meneruskan pernikahan anaknya dengan mengganti mempelai perempuan.

"Maka hari itu pernikahan sudah dilaksanakan tetapi (mempelai perempuan) bukan dari Hilda," tutur Ato. Ia menilai kejadian tersebut merupakan pekerjaan rumah KPAID dan para pemangku kebijakan Kabupaten Tasikmalaya terkait persoala pernikahan usia dini. "Dengan tidak mengurangi (penghormatan terhadap) adat, edukasi harus ditingkatkan," ujarnya.

Hilang sejak tiga bulan lalu, Kepolisian Resort Tasikmalaya pun menyisir Kabupaten Garut lantaran informasi keberadaannya di sana.


Halaman:

Editor: Gita Pratiwi

Tags

Komentar

Terkini

X