Giliran Indramayu Alami Peningkatan Pasien DBD

- 30 Januari 2019, 22:07 WIB
ILUSTRASI demam berdarah.* DOK PR
ILUSTRASI demam berdarah.* DOK PR

INDRAMAYU, (PR).- Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Indramayu mulai bermunculan. Meski belum banyak, warga tetap diminta untuk menjaga lingkungannya masing-masing. Di tengah musim hujan seperti ini penyebaran nyamuk cukup masif.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, total pasien DBD di Indramayu mencapai 13 pasien. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu Deden Boni Koswara mengatakan, ada peningkatan penderita. “Jika dibandingkan dengan tahun 2018 kemarin pada bulan yang sama, jumlah penderita DBD ada 9 orang,” kata dia, Rabu 30 Januari 2019.

Deden menambahkan, meski meningkat, jumlah penderita DBD saat ini belum begitu banyak. Merujuk pada tahun 2017 lalu, jumlah penderita DBD bisa mencapai 42 kasus. “Ada tren kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2018,” ujarnya. Peningkatan tersebut diperkirakan terjadi karena masifnya penyebaran nyamuk pembawa DBD.

Saat ini pemerintah tengah berupaya menekan jumlah kasus DBD di Indramayu. Dinas Kesehatan sudah menyurati berbagai fasilitas kesehatan untuk siaga DBD. “Membuat surat ke fasilitas kesehatan pertama dan lanjut untuk tetap waspada,” ungkap Deden.

Lebih jauh, semua wilayah di Kabupaten Indramayu berpotensi terjangkit DBD. Namun Dinas Kesehatan memberi perhatian lebih kepada 5 wilayah karena merupakan daerah endemis DBD. Adapun daerah itu antara lain wilayah kerja Puskesmas Margadadi, Balongan, Jatibarang, Kertasemaya, dan Patrol. Wilayah-wilayah tersebut masuk ke dalam prioritas penanganan dan pencegahan.

Kendati demikian, Dinas Kesehatan tidak akan mengabaikan wilayah lain. Sebab DBD kerap terjadi di wilayah padat penduduk. Contoh daerah padat penduduk di Indramayu yakni permukiman nelayan. Dia pun mengimbau warga untuk ikut mencegah penyebaran DBD. Salah satu cara yang bisa ditempuh yakni menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. Penerapan tindakan pemberantasan sarang nyamuk juga perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit itu.

Warga kata Deden, mesti fokus memperhatian genangan-genangan air di sekitar rumah mereka. “Tempat perkembangbiakan nyamuk terjadi di air,” katanya.

Dia menilai, tindakan pemberantasan sarang nyamuk  lebih efektik dilakukan untuk pencegahan dibandingkan dengan fogging ata pengasapan. Fogging kata Deden, hanya mematikan nyamuk yang beterbangan di permukaan saja. Untuk larva nyamuk yang masih ada di air tidak ikut mati tersemprot. Hal itulah yang menyebabkan nyamuk terus bersiklus. “Fogging bukan merupakan penyelesaian DBD. Fogging itu hanya efektif selama satu minggu,” ujarnya. Langkah yang cukup efektif menghilangkan jentik yakni dengan menaburkan bubuk abate di bak penampungan air.

Saat ini, Dinas Kesehatan juga telah mengajak para siswa sekolah untuk ikut memberantas nyamuk. Salah satu program yang telah diluncurkan yakni jumantik atau juru pemantau jentik nyamuk. Siswa diminta untuk memantau jentik nyamuk di rumah mereka masing-masing. “Diharapkan bisa menekan kasus DBD,” ungkap dia.***

Editor: Gugum Rachmat Gumilar


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network