Sabtu, 22 Februari 2020

[Laporan Khusus] Jalan Panjang Menyelamatkan Ciharus

- 21 Januari 2019, 18:05 WIB
KAWANAN kerbau makan rumput di lahan yang asalnya bagian dari Danau Ciharus yang telah menjadi ladang rumput, di Kawasan Cagar Alam Kamojang, Kabupaten Bandung, Kamis 17 Januari 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR

LEBIH dari lima tahun yang silam, kawasan Cagar Alam Kamojang selalu ­ramai pada akhir pekan. Gunung Rakutak dan Danau Ciharus menjadi sasaran ­pendaki maupun pegiat motor trail untuk ­menghabiskan waktu di sana. ­”Dulu di sini setiap akhir minggu pasti banyak tenda-tenda. Ada warung-warung juga di pinggir danau, tempat warga berjualan,” ujar Pepep Didin Wahyudi, aktivis ­pencetus gerakan Save Ciharus dan Sadar Kawasan.

Kini keramaian pendaki dan aktivitas motor trail di kawasan Cagar Alam Kamojang sudah sangat jauh berkurang. Gerakan Save Ciharus yang masif dikampanyekan sejak 2015 lalu menjadi salah satu penyebabnya.

Kekuatan media sosial juga mendorong gerakan Save Ciharus dalam waktu singkat berkembang menjadi gerakan Sadar Kawasan. Hal ini menyusul berbagai daerah lainnya yang juga serentak menyuarakan penyelamatan cagar alam dengan ­ancaman yang sama, seperti Cagar Alam Laut Anak Krakatau, hingga ­Cagar Alam Pulau Sempu.

Penyelamatan cagar alam kencang disuarakan, karena merupakan kawasan yang harusnya steril dari sentuhan aktivitas manusia.

Pepep mengungkapkan, mengapa pelaku perusakan dengan motivasi rekreasi menjadi fokus utama gerakan #saveciharus, karena merupakan yang paling memungkinkan untuk segera diedukasi. Selain rekreasi, ada juga pelaku perusakan dengan motivasi ekonomi, dan industri eksplorasi panas bumi.

”Karena jika menghentikan motivasi ekonomi, dalihnya nanti adalah soal kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat. Sementara motivasi industri energi, kami belum punya kekuatan untuk menghentikan itu. Jadi satu-­satu­nya harapan untuk dihentikan pa­ling pertama adalah pelaku dengan motivasi rekreasi. Karena istilahnya, orang yang melakukan pelanggaran dengan motivasi rekreasi di kawasan cagar alam, jika aktivitasnya dihenti­kan tidak serta-merta orang itu akan tiba-tiba gila, sakit, atau mati,” katanya.

Dengan mengedukasi masyarakat untuk tidak berwisata mendaki maupun melakukan olah raga motor trail di kawasan cagar alam, hal itu juga bisa menjadi tamparan yang krusial bagi pemerintah agar tidak lantas lapar mata untuk mengomersialisasi kawasan demi bisnis wisata.

Pepep menjelaskan, Save Ciharus dan Sadar Kawasan bukanlah komunitas melainkan gerakan yang disuara­kan berbagai pegiat alam bebas dari berbagai komunitas di Jawa Barat. Gaungnya bahkan mendapat dukungan pegiat alam bebas di daerah lainnya di Indonesia.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X