[Laporan Khusus] Rehabilitasi Sungai Cimanuk Jangan Setengah Hati

- 11 Desember 2018, 01:08 WIB
WARGA melintasi reruntuhan pemukiman yang bersebelahan dengan sungai Cimanuk rata disapu banjir bandang di Kampung Cimacan, Kecamatan Tarogongkidul, Kabupaten Garut, Rabu 21 September 2016.*

DUA tahun silam, Sungai Cimanuk mengamuk. ­Banjir bandang menerjang Kota Garut dan sekitarnya. Puluhan orang tewas dan belasan lainnya hilang. Kerugian material mencapai ratusan miliar rupiah.

Setahun lalu, dilakukan rehabilitasi hulu Sungai Cimanuk untuk menghindari musibah serupa. ­Namun, program itu tak semulus yang direncanakan.

Pagi itu, cuaca cukup cerah. Seperti biasa, Jihad (35) menyirami lahan garapannya di area hutan ­Perum Perhutani di Desa Ciela, Kecamatan ­Bayongbong, Kabupaten Garut. Delapan tahun ­terakhir, di ­lahan itu, dia secara rutin menanam ­kentang dan bawang. Bibit kentang yang ditanamnya baru berusia sepekan.

Jihad adalah petani yang tergabung dalam kelompok tani pelaksana program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM). Kelompok ini bekerja sama dengan Perum Perhutani Kesatuan Pemang­kuan Hutan (KPH) Kabupaten Garut.

Dalam perjanjian disebutkan, kelompok tani harus memanfaatkan lahan Perhutani untuk menanam kopi dan buah-buahan.

loading...

Pada kenyataannya, sebagian besar lahan yang digarap Jihad justru di­­ta­nami sayuran. Hanya beberapa pohon kopi yang terlihat di antara sayuran.

”Awalnya, tumpang sari kopi sama sayur­an. Karena kopinya mati, ya saya tanam sayuran saja,” katanya di Blok 63 B hutan Perum Perhutani, Selasa pekan lalu.

Oleh karena itu, diperlukan upaya pengembalian fungsi ekosistem lingkungan DAS dan memulihkan kembali hulu Cimanuk untuk meminimal­kan potensi banjir dan longsor.

Halaman:

Editor: Tim Pikiran Rakyat


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X