Waktu Tempuh Bandung-Jakarta 2 Jam Tinggal Angan-angan

- 28 November 2018, 01:37 WIB
FOTO aerial suasana kemacetan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Bekasi, Jawa Barat, Jumat 23 November 2018. Kementerian Perhubungan akan mengatur secara bergantian jadwal pengerjaan proyek pembangunan jalan tol layang, LRT dan kereta api cepat Jakarta-Bandung yang berada di Tol jakarta-Cikampek agar dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di jalan tol tersebut.*

DUANE (29), warga Bandung yang bekerja di Jakarta mengaku pernah menghabiskan waktu hingga 7 jam di dalam bis saat perjalanan dari Jakarta menuju Bandung. Perjalanan itu dilalui dengan penuh perjuangan sang juru kemudi, mencari jalur arteri yang lebih “manusiawi”.

“Saya merindukan Jakarta-Bandung kembali hanya dua jam, namun faktanya jauh lebih dari itu, sampai tujuh jam baru sampai Bandung,” kata pria yang berprofesi sebagai pengajar ini kepada “PR”, Selasa 27 November 2018.

Untuk diketahui, waktu tempuh Jakarta-Bandung hanya 2 jam merupakan terobosan baru saat Tol Cipularang dibangun 2005 silam. Seiring berjalannya waktu, peningkatan volume kendaraan hingga berbagai pengerjaan proyek, kini waktu tempuh singkat itu sepertinya hanya menjadi kenangan. 

“Kalau dulu benar, Jakarta-Bandung cuma dua jam dan itu benar sekali. Tapi sekarang berasa banget, bisa sampai tujuh jam. Itu juga kudu keluar tol dulu nyari jalan lain terus masuk lagi tol,” kata Duane.

Dia menyadari bahwa kemacetan itu terjadi karena ada pengerjaan infrastruktur yang strategis. Namun, dia menyayangkan tidak adanya langkah antisipasi dari pemerintah untuk menghindari dampak yang lebih besar yang dapat dirasakan masyarakat.

“Saya sadar sih memang buat kita juga itu pengerjaan, tapi kan bukan berarti mengorbankan rutinitas dan kenyamanan sehari-hari. Harus memang dipikirkan lebih dalam dampaknya apa dari pembangunan itu, kan tidak bagus juga ada pembangunan tapi sehari-seharinya terganggu seperti ini,” kata dia, mengeluh.

Keluhan berbeda disampaikan Dede (42), sopir kendaraan berat yang waktu operasionalnya dibatasi. Dede mengaku bingung dengan kebijakan yang diambil pemerintah, khususnya terhadap kendaraan berat. Soalnya, mereka pagi tidak diperbolehkan memasuki tol, sedangkan malam justru disuguhi kemacetan.

“Jadi kami sebenarnya bingung, pagi tidak boleh melintas, jalan siang macet, jalan malam tambah macet,” kata sopir yang terbiasa membawa logistik dari Tanjung Priok menuju Cirebon, dan sebaliknya ini.

Halaman:

Editor: Tommi Andryandy


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X