Selasa, 2 Juni 2020

Tradisi Membuat Bubur Sura Sarat Nilai Kebersamaan

- 23 September 2018, 07:24 WIB
IBU-ibu di Blok Rancabolang, Desa Pasindangan, kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka sedang mengocek bubur sura di tungku depan rumah mereka, ibu-ibu lainnya menyiapkan mumbu dan bahan lainnya seperti umbi-umbian dan kacang-kacanfan untuk di camprkan ke adonan bubur , Sabtu, 22 September 2018. Acara mubur sura di wilayah etrsebut masih tetap dilakukan warga sebagai pengingat bulan Muharam.*

MAJALENGKA,(PR).- Bulan Muharram atau bulan Suro warga di Desa Pasindangan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka hingga kini masih tetap memiliki tradisi membuat bubur sura. Bubur berbahan dasar beras, kacang-kacangan serta umbi-umbian.

Pembuatan bubur sura di desa Pasindnagan ini dilakukan secara berkelompok oleh warga di tiap blok atau kampung. Di Blok Rancabolang misalnya, Sabtu, 22 September 2018, sejumlah ibu-ibu mulai pukul 07.00 WIB sudah mulai berkumpul di salah satu halaman warga bersiap untuk membuat bubur, mereka membawa aneka umbi dan biji-bijian serta beras untuk di buat bubur.

Umbi yang dibawa diantaranya adalah talas, boled, singkong, serta biji bijian seperti jagung, kacang merah, kacang kedelai, kacang tanah, jagung dan sejumlah biji-bijian lainnya yang akan digunakan sebagai campuran bubur sura.

Setelah bahan terkumpul beberapa diantaranya membuat tungku untuk memasak bubur dengan dua kuali besar. Ada pula yang mencucui beras dan bahan lainnya yang sudah terkumpul serta membuat bumbu untuk bubur.

Menurut keterangan salah seorang tokoh masyarakat Blok Rancabolang, Caryo, kegiatan membuat bubur sura ini biasa dilakukan setiap bulan Suro, dan ini sudah dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka.

“Bahan untuk membuat bubur juga dikumpulkan dari warga, membuatnya dilakukan secara bergotong royong, bumbu juga dibawa dari masing-masing rumah siapa, kayu bakar juga di abwa dari rumah masing-masing. Ini kebersamaan segala sesuatu dilakukan bersama bisa selesai dengan baik,” ungkap Caryo.

Watem, warga lainnya mengatakan yang membuat bubur sura ini pada umunnya adalah perempuan, mengocek bubur walaupun di wajan besar dan kocekan besar tetap dilakukan perempuan. 

“Tungku dibangun di halaman rumah yang luas agar lebih leluasa,” kata Watem.

Uun warga lainnya mengatakan pembuatan bubur dimulai pukul 07.00 WIB hingga selama kurang lebih 1,5 jam, karena banyak biji yang susah lunak seperti halnya jagung, kacang uci dan kacang hijau, disamping apinya juga tidak terlalu besar karena khawatir gosong.

Halaman:

Editor: Tati Purnawati


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X