Perjalanan Kesenian Topeng Cisalak, Cikal Bakal Topeng Betawi

- 18 September 2018, 09:29 WIB
ANDI Supardi (58), memperlihatkan topeng Cisalak di kediamannya di Jalan Gadog Raya, Gang Melati No 1, Kampung Cisalak, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Selasa 18 Selasa 2018. Grup Topeng Cisalak masih bertahan kendati perhatian Pemkot Depok terbilang minim.*
ANDI Supardi (58), memperlihatkan topeng Cisalak di kediamannya di Jalan Gadog Raya, Gang Melati No 1, Kampung Cisalak, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Selasa 18 Selasa 2018. Grup Topeng Cisalak masih bertahan kendati perhatian Pemkot Depok terbilang minim.*

TOPENG Cisalak, kesenian yang memadukan tari, musik, komedi itu masih bertahan di Kota Depok. Kesenian rakyat yang lahir di Kampung Cisalak, Depok tersebut telah melahirkan seniman terkenal seperti Bokir, Mandra, Mastur, Omas. Namun, penampilan grup seni di tepian Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Jakarta itu justru minim perhatian dari Pemerintah Kota Depok. Buktinya, grup Topeng Cisalak  lebih banyak tampil dan diundang pentas di Jakarta ketimbang wilayah Jawa Barat. Pikiran Rakyat mencoba menelusuri eksistensi grup kesenian yang telah lahir pada 1918 dan menjadi cikal bakal kesenian Topeng Betawi.

Papan kecil bertuliskan Sanggar Tari & Musik Topeng Kinang menempel di sisi kanan rumah yang berlokasi di Jalan Gadog Raya, Gang Melati No 51, RT 03 RW 07, Kampung Cisalak, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Minggu 16 September 2018. Rumah tersebut terkepung bangunan-bangunan pemukiman padat warga. Di sisi kiri bagian belakang rumah terlihat panggung mini dengan berbagai kain warna warni bergelantungan pada tiang-tiangnya. Beberapa topeng juga tergeletak di sana. Aroma kesenian begitu lekat di rumah yang berfungsi sebagai sanggar Topeng Kinang. Selain beragam atribut pertunjukan, deretan foto saat pegiat sanggar mentas turut terlihat.

Topeng Kinang menjadi grup kesenian tua yang masih bertahan di Kota Depok. Warga lebih mengenalnya dengan nama Topeng Cisalak. Penamaan tersebut muncul karena Topeng Kinang lahir di Kampung Cisalak. Andi Supardi (58), pegiat Topeng Cisalak menuturkan, grup kesenian itu lahir pada 1918. Andi adalah generasi ketiga keturunan pendiri Topeng Cisalak. Kakek neneknya, masing-masing Dji'un bin Dorak dan Kinang merupakan pendiri grup kesenian rakyat tersebut.

Kinang adalah perempuan asal Kalisari, Cijantung, Jakarta Timur yang menikah dengan Djiun, pria dari Klender, Jakarta Timur. Pasangan seniman itu menikah pada sekitar 1915. Djiun dikenal sebagai seniman petualang di Pasar Banten. Sedangkan Kinang memiliki darah seni dari orang tuanya yang merupakan seniman kesenian Ubrug di Kalisari. Andi menuturkan, pernikahan tersebut melahirkan  putra dan putri yakni Bokir Dji'un, Dalih Dji'un, Naih Dji'un, Limah dan Lipah  binti Dji'un. Keluarga Dji'un kemudian mendirikan Tari Topeng Kinang setelah pindah ke Cisalak.

Pada 1922, anak-anak keluarga Dji'un mulai beranjak dewasa dan turut dalam pementasan Topeng Cisalak. "Sampai 1933-1945 di zaman pendiri,  mereka sudah main kampung ke kampung," ucapnya.

Grup tersebut tersohor di pinggiran Jakarta. Andi mengatakan, Topeng Cisalak kebanjiran undangan manggung saat warga panen, syawalan atau sehabis Lebaran, hajatan sunatan atau nikahan. Terkadang, mereka juga manggung dari pintu ke pintu rumah warga di momen hari besar Tionghoa. Bila tak sepi undangan manggung, keluarga Dji'un kembali turun bertani di Cisalak yang saat itu masih berupa hutan.

Andi mengungkapkan, Topeng Cisalak  memiliki sentuhan unsur seni Jawa Barat kendati kental budaya Betawi. Seperti dalam tarian yang lebih dominan pada gerak bahu khas kesenian Jabar. Meski demikan, unsur Betawi masih melekat berupa gerak badan si penari yang condong ke depan. "Pakaian (penari) lebih tertutup," ucap Andi.

Sementara karakter topeng yang dikenakan penari terpengaruh kesenian Topeng Cirebon. Akan tetapi, lanjutnya, dua kesenian topeng tersebut tetap memiliki perbedaan. "Karakter (Topeng Cisalak) lebih sederhana, enggak banyak ornamen dengan pernah pernik," kata Andi.

Setiap topeng juga memiliki warna-warna dan makna yang berbeda. Dalam tarian topeng tunggal yang dibawakan penari perempuan, terdapat tiga karakter kedok yakni Samba, Panji dan Kelana. "Samba warna topengnya merah jambu, panji warnanya putih dan kelana jingga atau merah," ucap Andi. Samba, tuturnya, mewakili karakter kegenitan perempuan. Sedangkan Panji dan Kelana mewakili kelembutan dan kekekerasan atau arogansi kaum hawa.

Halaman:

Editor: Bambang Arifianto


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x