Jumat, 6 Desember 2019

Kisah Tole Iskandar, Pahlawan Asal Depok yang Menembak Jatuh Pesawat Belanda

- 8 Juli 2018, 13:04 WIB
Roni Yudianto menunjuk foto yang mirip pejuang kemerdekaan, Tole Iskandar di kediamannya, Gang Kembang, RT/RW 3, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Jumat 7 Juli 2018. Tole Iskandar merupakan pejuang kemerdekaan asli Depok yang gugur di Cikasintu, Kabupaten Sukabumi.*

PESAWAT kecil milik Belanda itu terbang melintasi langit Depok untuk berpatroli. Saat melewati Jalan Raya Citayam, bunyi senjata menyalak terdengar dari sebuah rumah diringi hamburan peluru melesat ke arah badan pesawat. Konon, kapal capung nahas itu pun terjatuh di sekitar lokasi penembakan.

Cerita heroik di masa perjuangan kemerdekaan tersebut masih diingat Roni Yudianto (52). Informasi tersebut didapatnya secara turun temurun dari pihak keluarga. Soalnya, penembaknya adalah kakak dari ayahnya atau Pakde dari Roni yang bernama Tole Iskandar.

Tole Iskandar bukanlah nama asing bagi warga Depok. Namanya diabadikan menjadi nama ruas jalan yang terbentang dari Jembatan Panus hingga Simpangan Depok. Riwayat Tole lekat dengan sejumlah aksi heroik. Aksi penembakan burung besi Belanda menjadi salah satu momen heroik yang masih diingat keluarga dan teman-teman seperjuangangannya.

Kendati demikian, detail peristiwa itu tak terlalu diingat betul oleh Roni. Roni merupakan anak Slamet Mulyono, adik bungsu Tole. Menurutnya, penembakan dilakukan oleh Tole dari markas Laskar 21 di kawasan Jalan Raya Citaram, Pancoran Mas. Kini, jejak rumah markas laskar para pemuda atau pejuang Depok juga telah lenyap.

"Sudah jadi Ruko, diruntuhin," kata Roni. Roni mengungkapkan hal itu saat berbincang dengan Pikiran Rakyat di kediamannya, Gang Kembang, RT/RW 3, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Jumat 6 Juli 2018.

Tole merupakan anak pertama dari pasangan Raden Samidi Darmo Raharjo dan Ibu Sukati Setjodiwirjo. Dia memiliki beberapa adik yakni  Nyimas Tuti, Soekesih, Suyoto, Sugito, Mulyati, Slamet Mulyono. "Lahirnya di Gang Kembang," ucap Roni. Identitas Tole memang cukup misterius. Pihak keluarga pun tak memiliki foto Tole. Satu-satunya rupa yang diperkirakan mirip Tole adalah wajah sang adik, Slamet. 

"Fotonya ini minim sekali, karena dia seorang pejuang kalau dia difoto tergambar kemungkinan dia bisa ditangkap NICA (Belanda), itu saja masalahnya," ucap Roni.

Demikian pula dengan riwayat hidup Tole yang cukup tersembunyi. Roni mengungkapkan, pejuang lokal Depok tersebut dikenal sebagai pemuda pendiam dan rajin berolahraga. Pemuda itu kerap berolahraga menggunakan barbel dan bela diri silat. Kebiasaan lain Tole adalah memelihara hewan peliharaan dan berburu. Tole menghilang dari keluarga saat Jepang mulai berkuasa pada 1942-1945. "Pulang ke rumah orang tuannya (Tole) sudah jadi Peta (Pembela Tanah Air)," ucap Roni. Di korps tentara sukarela bentukan Jepang itu Tole digembleng sebagai serdadu.

Menurut Roni, Tole bergabung dengan Peta tanpa izin dari orang tua. Namun, darah muda dan panggilan untuk berjuang membuatnya bergabung di kesatuan militer tersebut. Tak butuh lama, kumandang proklamasi kemerdekaan pun mengugah Tole ikut berjuang. Dia mengumpulkan para pemuda yang rata-rata bermukim di kawasan Depok arah Citayam untuk ikut memanggul senjata. Pasukan ini dikenal sebaga Laskar 21 yang bermarkas di Jalan Raya Citayam. Tole didaulat menjadi komanda para pejuang yang jumlahnya mencapa 21 orang itu. Roni masih ingat beberapa nama anak buah Tole seperti Asbih dan Saadi. Kini, nyaris semua anak buah Tole  telah meninggal. Di sana, Tole memiliki pangkat sebagai Letnan hingga akhir hayatnya.


Halaman:

Editor: Bambang Arifianto

Tags

Komentar

Terkini

X