Minggu, 8 Desember 2019

Gambarkan Pendidikan di Indonesia, Drama Kolosal Ini Pukau Peserta Upacara Hardiknas di Kuningan

- 2 Mei 2018, 13:54 WIB

PANDANGAN para pejabat dan ribuan peserta upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di lapangan Pandapa Paramarta, kompleks Stadion Mashud Wisnusaputra Kabupaten Kuningan, Rabu 2 Mei 2018, hampir selama 30 menit seolah terpatri ke area tengah lapangan tersebut. Dalam durasi waktu tersebut mereka disuguhi pentas drama kolosal terskenario cukup apik bertajuk "Pahlawan Tanpa Bintang" melibatkan sedikitnya 150 orang pemeran utama dan sekitar 250 pemeran pendukung  dari kalangan seniman dan anak-anak sekolah berbagai tingkatan.

Drama kolosal di lapangan terbuka itu dipentaskan seusai upacara tersebut diawali dengan kibar ribuan bendera merah putih diikuti ribuan peserta upacara. Drama kolosal garapan Teater Merah Putih itu ditampilkan atas dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, secara keseluruhan menggambarkan dunia pendidikan dari masa ke masa di Indonesia. Mulai dari zaman penjajahan kolonial Belanda hingga zaman sekarang.

Melalui gerak gerik, gaya, disertai berbagai ungkapan, serta kostum para pemeran baik kelompok maupun perorangan drama tersebut awalnya menggambarkan betapa sulitnya anak-anak bangsa Indonesia mengenyam pendidikan sekolah di masa penjajahan Belanda. Kemudian di episode berikutnya drama itu menggambarkan kehadiran serta sepak terjang seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di zaman penjajahan Belanda, yaitu Ku Hajar Dewantara diperankan salah satu pemeran drama kolosal tersebut.

Berikutnya, rangkaian sosio drama kolosal itu diwarnai gambaran perkembangan pendidikan di Indonesia setelah merdeka hingga di era modern sekarang. Termasuk digambarkan pula beberapa contoh kompleksnya masalah dan hal-hal buruk yang mengancam, meracuni, serta merusak moral anak-anak sekolah di Indonesia.

Endingnya, sosio drama kolosal itu ditutup dengan episode menggambarkan beberapa contoh kelakuan buruk anak sekolah cukup mengerikan. Di antaranya anak sekolah yang terbius menjadi kecanduan bahkan terlibat peredaran narkoba, tawuran pelajar, hingga tega menganiaya guru dan anak-anak pelajar tak berdosa serta menjadi pelaku kriminal.

Teramati “PR” tampilan episode akhir sosio drama itu mampu membawa banyak penonton menunjukkan berbagai ekspresi geram, prihatin, terharu, dan sedih sampai di antaranya banyak yang menitikkan air mata. Terutama ketika di ujung episode akhir sosio drama itu menggambarkan ulah biadab sekelompok pelajar mengeroyok seorang guru dan anak sekolah dasar tak berdosa hingga tewas.

“Gambaran kebutralan pelajar seperti ini kami tampilkan sekadar untuk mengingatkan dan menggugah kita semua, bahwa dunia pendidikan harus mendapat perhatian dari semua pihak. Tidak hanya dari guru dan para pihak terkait di dunia pendidikan, tetapi juga dari orang tua murid dan semua kalangan masyarakat,” tutur Hana Nining, warga Desa Caracas, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, pembuat naskah, merangkap pelatih dan sutradara sosio drama kolosal dari Teater Merah Putih di sela-sela pentas drama tersebut.


Halaman:

Editor: Nuryaman

Tags

Komentar

Terkini

X