Garut, Penganiayaan Marbut Masjid Direkayasa Sendiri

- 1 Maret 2018, 14:04 WIB

BANDUNG, (PR).- Informasi yang sempat beredar mengenai penganiayaan terhadap Uyu Ruhyana (56), seorang marbut Masjid Agung Pameungpeuk Kabupaten Garut dipastikan tidak benar. Uyu mengakui bahwa kejadian tersebut merupakan rekayasa dirinya. Motif kebutuhan ekonomi menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

"Saya merekayasa kejadian tersebut seolah-olah ada yang menganiaya. Padahal itu rekayasa saya sendiri," kata Uyu, di Mapolda Jawa Barat, Kamis 1 Maret 2018.

Dia menuturkan, sebagai marbut dia mendapat penghasilan sekitar Rp 125 ribu setiap bulan. Sementara dia memiliki keinginan untuk membelikan anaknya mesin pemotong rumput. Sedianya, alat tersebut selanjutnya bisa dipergunakan untuk bekerja. 

Namun karena keterbatasan kemampuan, dia akhirnya memilih jalan pintas dengan membuat skenario penganiayaan pada Selasa 27 Februari 2018 dini hari. Pada intinya, dengan seolah menjadi korban penganiayaan, dia berharap ada kalangan yang simpati. Lewat cara itu pula dia mengharapkan ada materi yang bisa didapat untuk membeli mesin pemotong rumput. 

Ide tersebut dia peroleh sejalan dengan maraknya kabar mengenai penganiayaan tokoh agama oleh kalangan tertentu. Dia mengakui bahwa ide hingga pelaksanaannya dilakukan seorang diri.

loading...

Kasus dugaan penganiayaan terhadap Uyu pun sempat ramai di sejumlah media sosial serta aplikasi percakapan. Disebutkan bahwa Uyu merupakan korban penganiayaan yang dilakukan oleh lima orang yang tidak dikenal. Bahkan ada pula yang menyebut bahwa peristiwa ini terkait dengan kebangkitan PKI. Selanjutnya, polisi melakukan pemeriksaan hingga menyimpulkan bahwa penganiayaan itu tidak terjadi. 

Penyebar berita

Kapolda Jawa Barat Agung Budi Maryoto menuturkan, atas perbuatannya, Uyu terancam dijerat dengan pasal 242 KUHPidana terkait pembuatan laporan palsu dengan ancaman tujuh tahun penjara. Sementara di sisi lain, pihaknya juga masih menelusuri penyebar berita sesat yang berkaitan dengan penganiayaan Uyu.

Agung menambahkan, hingga saat ini tercatat sedikitnya sudah ada 21 laporan yang berkaitan dengan penganiayaan terhadap tokoh agama. Namun setelah ditelusuri, hanya dua kejadian yang benar terjadi, yaitu di Cicalengka Kabupaten Bandung dan di Cigondewah Kota Bandung. Sisanya merupakan kabar sesat atau hoaks. Atas penyebaran hoaks itu, 13 orang dari berbagai daerah di Jawa Barat ditetapkan sebagai tersangka.***

Editor: Joko Pambudi


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X