Kamis, 23 Januari 2020

Keraton Kacirebonan, Saksi Bisu Peperangan dengan Belanda

- 24 Februari 2018, 15:10 WIB

"Pangeran Surantaka kooperatif karena memang Cirebon sudah sekian tahun berperang dengan Belanda. Kalau dipaksakan terus, Cirebon akan lemah dan dikuasai. Maka jalan satu-satunya adalah berbaik-baik dulu dengan Belanda," ujarnya. Tahun 1799 pecahlah perang Cirebon yang kedua, yang disebut perang santri karena kalangan kiai dan santri dimotori oleh sultan sepuh kelima Pangeran Saefudin Matangaji menggempur Belanda.

Herman Willem Daendels, yang pada tahun 1806 menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda akhirnya memulangkan Pangeran Suryanegara ke Cirebon. Sepulangnya dari pengasingan, Pangeran Suryanegara tidak kembali ke Karton Kanoman tetapi memilih tinggal di daerah Sunyaragi dan berganti nama menjadi Pangeran Carbon Amirul Mukminin. Akhirnya didirikanlah Keraton Kacirebonan dan beliau wafat pada tahun 1814.

Koleksi di dalam Keraton Kacirebonan

Ada banyak peninggalan yang dapat dilihat di dalam keraton ini. Dari bagian luar terlihat sebuah pendopo yang cukup besar dengan dominasi warna putih, hijau, dan emas. Perabotannya seperti meja dan kursi terbuat dari kayu yang hingga kini masih asli. Di dindingnya terpajang foto-foto dari kesultanan Cirebon dari dulu hingga sekarang.

Di dalam pendopo terdapat berbagai macam peninggalan yang tersimpan rapi dalam etalase. Di antaranya ada keris, pedang, buku, beberapa guci pemberian negara tetangga, uang kuno, gamelan, hingga koleksi baju pengantin.

Keraton Kacirebonan bebas dikunjungi oleh siapapun dengan tiket masuk seharga Rp 10.000. Pengunjung akan dipandu oleh pemandu wisata dengan biaya seikhlasnya. Keraton Kacirebonan beralamat di Jalan Pulasaren, Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat. (Elvin Rizki Prahadiyanti)***

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X